- Kapten Miswar Maturusi, warga Luwu, dilaporkan hilang di Selat Hormuz setelah tugboat Musaffah 2 meledak dan tenggelam pada 6 Maret 2026.
- Insiden kapal terjadi dini hari di perairan antara UEA dan Oman; empat dari tujuh kru selamat, tiga lainnya dicari.
- Satu WNI selamat dirawat di Oman akibat luka bakar; Kemlu RI berkoordinasi intensif mengenai pencarian dan penyelidikan.
SuaraSulsel.id - Seorang warga asal Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan dilaporkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.
Korban diketahui bernama Capt Miswar Maturusi, kapten kapal tugboat Musaffah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Port.
Hingga kini, keluarga masih menunggu kabar terbaru mengenai kondisi Miswar setelah kapal yang dinakhodainya dilaporkan mengalami insiden di tengah pelayaran.
Informasi hilangnya Miswar pertama kali diterima keluarga pada Jumat, 7 Marer 2026 sekitar pukul 10.00 Wita.
Baca Juga:Kemenag Sultra Imbau Warga Tunda Umrah
Kabar tersebut disampaikan oleh rekan kerja korban di dunia pelayaran.
Keluarga korban, Sumarlin Ahmad (21), mengatakan Miswar merupakan sosok kepala keluarga yang selama ini menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
Ia dikenal sebagai pribadi pekerja keras yang telah lama berkarier di dunia pelayaran.
![Capt Miswar Maturusi, warga Sulawesi Selatan yang hilang dalam insiden kapal tugboat Musaffah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Port [SuaraSulsel.id/Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/09/67395-capt-miswar-maturusi.jpg)
"Beliau kepala keluarga dengan satu orang istri dan dua anak. Selain menafkahi keluarganya, beliau juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya," kata Sumarlin, Minggu, 8 Maret 2026.
Menurut Sumarlin, kepedulian Miswar terhadap keluarga besar membuatnya menjadi sosok yang sangat dihormati oleh kerabatnya. Tidak hanya memenuhi kebutuhan keluarga inti, ia juga kerap membantu pendidikan anggota keluarga lainnya.
Baca Juga:Kondisi Terkini Ratusan Jemaah Umrah Asal Sulsel di Arab Saudi, Travel Batalkan Keberangkatan
Miswar meninggalkan seorang istri bernama Marliani Ahmad dan dua orang anak, yakni Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.
Anak pertamanya bahkan telah mengikuti jejak pengabdian kepada negara setelah resmi menjadi anggota kepolisian sejak tahun lalu.
Keluarga menyebut komunikasi terakhir dengan Miswar terjadi pada Rabu sebelum insiden tersebut. Saat itu, korban masih sempat berbicara dengan istrinya dan menyampaikan rencana pelayaran yang akan dilakukannya.
Sehari setelahnya, pada Kamis siang sekitar pukul 13.00 Wita, Miswar juga diketahui sempat membaca pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan. Namun pesan tersebut tidak sempat dibalas.
Menurut keluarga, pelayaran menuju kawasan Selat Hormuz kali ini diduga menjadi perjalanan yang cukup jauh bagi Miswar dibandingkan tugas-tugas sebelumnya yang lebih sering berada di sekitar wilayah pelabuhan.
Sebelum hilang kontak, Miswar juga sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa kapal yang dipimpinnya mengalami gangguan pada sistem navigasi GPS.
"Sudah ada dari pihak KBRI yang menelpon menanyakan alamat lengkap keluarga. Mereka bilang akan menyampaikan jika ada perkembangan informasi dari sana," kata Sumarlin.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengonfirmasi adanya insiden yang menimpa kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Persatuan Emirat Arab di kawasan Selat Hormuz.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah mengatakan kapal tersebut mengalami ledakan sebelum akhirnya terbakar dan tenggelam pada Kamis, 6 Marer 2026 sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
"Insiden terjadi di Selat Hormuz, di antara perairan Persatuan Emirat Arab dan Oman pada 6 Maret 2026 pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Berdasarkan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar dan tenggelam," ujar Heni.
Menurutnya, otoritas di Persatuan Emirat Arab dan Oman masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.
Heni menjelaskan kapal Musaffah 2 diawaki oleh tujuh orang kru yang berasal dari beberapa negara, yakni Indonesia, India, dan Filipina.
Dari total awak kapal tersebut, empat orang dilaporkan selamat sementara tiga lainnya masih dalam proses pencarian.
"Empat awak selamat, sedangkan tiga awak lainnya masih dalam proses pencarian," ujarnya.
Dari empat awak yang selamat, satu di antaranya merupakan warga negara Indonesia yang saat ini tengah menjalani perawatan akibat luka bakar di sebuah rumah sakit di Kota Khasab, Oman.
"Satu WNI selamat sedang mendapat perawatan luka bakar di rumah sakit di Kota Khasab, Oman. Sedangkan tiga WNI lainnya masih terus diupayakan pencarian oleh otoritas setempat," kata Heni.
Kemlu RI melalui perwakilan Indonesia di Persatuan Emirat Arab dan Oman kini terus berkoordinasi dengan otoritas setempat serta pihak perusahaan Safeen Prestige selaku operator kapal.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan proses pencarian awak kapal yang masih hilang serta memastikan penanganan terhadap korban selamat berjalan dengan baik.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga terus berkomunikasi dengan keluarga korban di Tanah Air untuk menyampaikan perkembangan terbaru terkait proses pencarian.
"Kementerian Luar Negeri juga mendorong penyelidikan menyeluruh atas insiden ini," kata Heni.
Hingga saat ini, keluarga Miswar di Kabupaten Luwu masih berharap korban dapat segera ditemukan. Mereka menunggu kabar terbaru dari pemerintah maupun pihak perusahaan terkait perkembangan pencarian di kawasan Selat Hormuz.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing