Ilmuwan Unhas Gunakan Lalat Buah untuk Perang Melawan Kanker dan Virus

Lalat buah sebagai model riset strategis dalam berbagai bidang penelitian, mulai dari genetika, biologi perkembangan, hingga riset penyakit dan terapi

Muhammad Yunus
Rabu, 11 Februari 2026 | 09:42 WIB
Ilmuwan Unhas Gunakan Lalat Buah untuk Perang Melawan Kanker dan Virus
Ilustrasi lalat buah [Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Unhas Fly Research Group memperkenalkan lalat buah sebagai model riset penting dalam genetika, penyakit, dan terapi.
  • Lalat buah efektif karena 75 persen gen penyakit manusia memiliki pasangan fungsional serupa di Drosophila.
  • Webinar ini memperkuat kerja sama Unhas dengan universitas internasional untuk kajian penyakit dan pengembangan terapi.

SuaraSulsel.id - Tim peneliti Unhas Fly Research Group (UFRG) memperkenalkan lalat buah sebagai model riset strategis dalam berbagai bidang penelitian, mulai dari genetika, biologi perkembangan, hingga riset penyakit dan terapi.

Prof Firzan Nainu SSi PhD Apt dari Fakultas Farmasi Unhas melalui webinar Fly Research Group Outreach 2026 di Makassar.

Menjelaskan bahwa Drosophila melanogaster atau lalat buah merupakan model biologis yang sangat kuat untuk menjawab pertanyaan besar dalam biologi dan kesehatan manusia.

Outreach 2026 merupakan bagian dari penguatan kerja sama akademik internasional antara Universitas Hasanuddin, The University of Queensland, dan University of Cambridge.

Baca Juga:Ragam Sumber Beasiswa di Unhas dan Cara Jitu Mendapatkannya

Sekitar 75 persen gen manusia terkait penyakit memiliki pasangan fungsional pada Drosophila, dengan kesamaan tidak hanya pada struktur gen, tetapi juga fungsi biologis dan mekanisme seluler.

Hal ini menjadikan Drosophila sangat efektif sebagai model screening untuk memahami mekanisme penyakit dan terapi.

Rencana tubuh organisme, kata dia, dikendalikan program genetik yang bekerja melalui jaringan gen hierarkis dan bersifat evolusioner serta terkonservasi lintas spesies.

Sehingga temuan pada Drosophila relevan untuk menjelaskan berbagai penyakit manusia, seperti kanker, gangguan metabolik, penyakit degeneratif, dan proses inflamasi.

Sementara Prof Toshiyuki Takano dari Kyoto Drosophila Stock Center, Kyoto Institute of Technology, Jepang, mengatakan pemanfaatan koleksi Drosophila.

Baca Juga:Ingin Kuliah Rasa Luar Negeri di Unhas? Cek Cara Raih 'Golden Ticket' Kelas Internasional 2026

Memungkinkan kajian penyakit secara lebih sistematis, terintegrasi, dan efisien.

Sekaligus menjembatani pendekatan lintas disiplin dari genetika, biologi sel, biomedis, hingga pengembangan terapi.

Selanjutnya, kegiatan ini dilanjutkan dengan pemaparan dua narasumber internasional lainnya, yakni Assoc. Prof Karyn Johnson dari The University of Queensland, Australia, dan Prof Tim Weil dari The University of Cambridge, Inggris.

Prof Karyn menjelaskan pemahaman interaksi antara inang dan virus yang merupakan kunci penting dalam pengendalian penyakit infeksi, khususnya penyakit yang ditularkan melalui vektor serangga.

Menurutnya, Drosophila melanogaster memiliki peran strategis sebagai model organisme karena kemudahan manipulasi genetik serta kemiripan mekanisme imun dasarnya dengan organisme tingkat tinggi.

Prof Karyn mengatakan sekitar 15 persen penyakit infeksi pada manusia ditularkan melalui serangga, terutama nyamuk.

Sebagai vektor berbagai patogen berbahaya Dalam konteks tersebut, Drosophila digunakan sebagai model eksperimental untuk mengkaji bagaimana virus berinteraksi dengan sistem imun inang.

“Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi jalur molekuler dan respons imun yang berperan dalam membatasi maupun memfasilitasi infeksi virus. Temuan-temuan dari penelitian berbasis Drosophila diharapkan dapat menjadi landasan penting dalam memahami proses serupa,” jelas Prof Karyn, Selasa (10/2).

Menutup pemaparannya, Prof Karyn menyimpulkan bahwa molekul microRNA (miRNA) memiliki dampak fungsional yang luas terhadap proses infeksi virus.

Pengaruh miRNA dapat bersifat spesifik terhadap jenis virus tertentu maupun bersifat umum terhadap berbagai virus.

Sehingga pemahaman mengenai peran miRNA membuka peluang pengembangan strategi pengendalian penyakit berbasis molekuler yang lebih efektif di masa depan.

Sementara itu, ketua panitia webinar Mukarram Mudjahid MSi Apt mengatakan, Outreach 2026 tidak hanya memberikan pemahaman ilmiah, tetapi juga membangun soft skills, kepemimpinan akademik, dan kapasitas implementasi riset di masing-masing institusi.

Ia menjelaskan, tercatat sebanyak11 universitas di luar Unhas menyatakan minat untuk terlibat, dengan 13 dosen perwakilan kampus serta sekitar 100 mahasiswa berlatar belakang Farmasi mengikuti kegiatan ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini