- Bahan masakan Imlek melambangkan keselamatan, kekayaan, dan kebahagiaan, tradisi ini telah dibudayakan warga Tionghoa ratusan tahun.
- Hidangan Yu Sheng simbol peningkatan rezeki, sementara ikan utuh melambangkan keutuhan dan kelancaran hidup.
- Mie panjang umur disajikan utuh dua meter melambangkan umur panjang dan kemakmuran, tidak boleh dipotong saat disantap.
SuaraSulsel.id - Pakar Kuliner keturunan Tionghoa, William Wongso, mengungkapkan, bahan-bahan pangan yang digunakan dalam memasak hidangan khas Imlek bukanlah merefleksikan kemewahan.
Akan tetapi terdapat simbol yang dapat menggambarkan keselamatan, kekayaan, kelanggengan, hingga kebahagiaan.
Tradisi menikmati hidangan khusus Imlek tersebut telah dibudayakan oleh warga etnis Tionghoa di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, sejak ratusan tahun lalu.
Berikut makanan tradisional khas Imlek:
Baca Juga:Sop Duren Samata Viral di MTF Market! Rahasia Rasa Bikin Nagih Terungkap
1. Yu Sheng Kemakmuran – Gaya Tuan Besar Semarang
Yu sheng merupakan hidangan tradisional Imlek yang sarat simbol dan harapan. Sajian ini biasanya menjadi hidangan pembuka yang disantap bersama-sama dalam tradisi Lo Hei.
Yakni mengangkat salad setinggi-tingginya menggunakan sumpit sebagai simbol harapan agar rezeki, keberuntungan, dan kesuksesan terus meningkat di tahun yang baru.
![Ragam hidangan yang biasa disajikan saat perayaan Imlek [Suara.com/ANTARA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/07/22147-kuliner-imlek.jpg)
Setiap elemen dalam yu sheng memiliki makna tersendiri. Dalam tradisi Tionghoa, ikan mentah merupakan simbol kelimpahan sepanjang tahun.
Kepercayaan ini berangkat dari makna kata yu yang berarti ikan sekaligus surplus.
Baca Juga:Kilas Balik Apang Paranggi dan Panada: Manis Gurih Jejak Portugis di Dapur Sulawesi
Karena itu, menyantap ikan mentah dalam sajian Yu sheng saat imlek diyakini membawa limpahan rezeki di tahun yang akan datang.
Selain ikan, pomelo kerap menjadi bagian penting dalam yu sheng. Buah ini dipercaya sebagai simbol hoki dan keberuntungan.
Saat pomelo dicampurkan ke hidangan, biasanya disertai doa untuk kesuksesan dan kelancaran dalam setiap urusan.
Selanjutnya, yu sheng juga dilengkapi sayuran hijau dan minyak zaitun.
Dalam tradisi, warna hijau menjadi elemen yang tidak boleh hilang karena melambangkan harapan akan kesehatan, yang diwujudkan melalui sayuran seperti mentimun dan bahan hijau lainnya.
Kacang tumbuk juga kerap menjadi pelengkap dalam hidangan yu sheng. Bahan ini melambangkan kemakmuran rumah tangga, yang biasanya disertai doa agar kehidupan keluarga dipenuhi emas dan perak.
Terakhir, taburan biji wijen menjadi simbol harapan agar usaha dan bisnis terus berkembang.
“Spesial di Tahun Kuda Api, kami hadirkan menu Peranakan Jawa Pesisir, sebagai akulturasi budaya Jawa dengan China agar semakin lebih meriah,” kata Putri, event manager.
2. Garoupa kukus Kapitan Cirebon – fillet kerapu putih
Kerapu putih yang disajikan utuh, dikukus dengan jahe dan daun bawang, lalu disiram saus kecap berpadu minyak wijen panas.
Itulah hidangan khas pesisir Cirebon yang menonjolkan cita rasa alami dan manis lembut daging ikan.
Dalam kepercayaan Tionghoa, ikan tidak boleh disajikan dalam keadaan terpotong-potong karena melambangkan keutuhan, keberlanjutan rezeki, dan kelancaran hidup.
Ikan biasanya diletakkan di tengah meja untuk dibagi bersama, bukan disajikan per porsi.
Menyajikan ikan yang sudah dipotong-potong dipercaya dapat memutus simbol keberuntungan dan rezeki.
“Hal wajib yang perlu ada dalam perayaan makan bersama saat Imlek yang pasti ikan nggak boleh dipotong-potong, karena berkaitan dengan rezeki yang terputus-putus,” kata William Wongso, ahli kuliner yang menguasai seni masakan Eropa dan Asia itu.
Laut dipandang sebagai sumber rezeki yang luas dan tak terbatas, sehingga hidangan laut dalam tradisi Imlek bukan sekadar lambang rezeki.
Ikan dikenal sebagai makhluk yang mampu menerabas arus sungai, terus bergerak maju meski menghadapi tekanan dari depan.
Filosofi ini dimaknai sebagai ketangguhan, keberanian menghadapi tantangan, dan semangat pantang mundur dalam menjalani kehidupan.

3. Mie Panjang Umur Keluarga Bhe
Mi panjang umur (siu mie) yang ditumis dengan sayuran segar, udang, daging kepiting manis, dan aneka boga bahari lainnya menghasilkan cita rasa yang gurih dan sedap.
Hidangan ini disajikan utuh dengan panjang mencapai dua meter tanpa terputus, melambangkan harapan akan umur panjang, kemakmuran, dan kelancaran rezeki di tahun yang akan datang.
Makanan ini umumnya disantap di penghujung jamuan, setelah rangkaian hidangan pembuka kaya serat dan menu utama tinggi protein dinikmati.
Biasanya, saat mengudap hidangan ini, masyarakat Tionghoa tidak boleh memotong atau menggigit mi hingga putus saat memakannya.
Mi harus diseruput utuh dari ujung ke pangkal agar tidak membawa nasib buruk.
4. Ny. Kwee Coconut Klappertaart
Mengakhiri budaya makan bersama saat Imlek dapat dilakukan dengan menikmati hidangan penutup khas Manado–Belanda.
Seperti klappertaart yang lembut berbahan kelapa muda, diperkaya kismis yang direndam rum, taburan almond panggang, dan telur putih kayu manis.
Disajikan dengan es puter gula aren sebagai pelengkap manis perayaan Imlek 2577 Kongzili.
Dalam tradisi jamuan Imlek, jumlah hidangan yang tersaji di meja makan pun umumnya tidak sedikit, bahkan bisa lebih dari sepuluh menu.
Menurut William Wongso, hal ini karena masyarakat Tionghoa percaya bahwa keberagaman hidangan mencerminkan kelimpahan dan keberuntungan, sehingga sajian harus mencakup berbagai jenis rasa dan bahan.
“Biasanya varian menu Imlek yang biasa tersaji di atas meja itu ada sepuluh. Orang Chinese saat makan biasanya cenderung ingin menikmati banyak jenis hidangan,” kata pria bershio Babi kelahiran 1947 itu.
(Antara)