- Nisfu Syaban 2026 diperkirakan jatuh pada Senin malam, 2 Februari 2026, menandai pertengahan bulan Syaban.
- Malam tersebut dimaknai sebagai waktu istimewa untuk introspeksi diri, memperbanyak doa, serta persiapan batin menyambut Ramadan.
- Umat Islam dianjurkan memanfaatkan malam ini untuk beristighfar, membaca Al-Qur'an, dan memohon rahmat serta keberkahan hidup.
SuaraSulsel.id - Malam Nisfu Syaban kembali menyapa umat Islam pada tahun 2026.
Sebuah malam yang datang di pertengahan bulan Syaban, tepatnya pada malam tanggal 15, yang secara turun-temurun dimaknai sebagai waktu istimewa untuk bermuhasabah, memperbanyak doa, dan menata kembali hubungan dengan Allah SWT.
Dalam tradisi keislaman, Syaban dikenal sebagai bulan pengantar menuju Ramadan.
Karena itu, Nisfu Syaban sering dipandang sebagai “pintu masuk” bagi jiwa untuk bersiap.
Baca Juga:Imbauan Gubernur Sulsel Selama Ramadan: Perkuat Kepedulian ke Fakir Miskin
Bukan sekadar soal ritual, tetapi juga soal kesiapan batin. Membersihkan niat, meredam ego, dan menumbuhkan harapan.
Banyak ulama menyebut malam Nisfu Syaban sebagai momentum di mana rahmat Allah terbuka luas.
Pada malam ini, umat dianjurkan memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, serta memanjatkan doa-doa terbaik—baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Doa tentang umur yang berkah, rezeki yang halal, dan hati yang istiqamah menjadi lantunan yang sering terdengar di masjid-masjid dan rumah-rumah.
Lebih dari itu, Nisfu Syaban mengajarkan makna kejujuran pada diri sendiri.
Baca Juga:4 Ciri Orang Beruntung Setelah Ramadan
Ia menjadi jeda sejenak dari hiruk pikuk dunia, tempat manusia menimbang ulang langkah-langkahnya.
Apa yang sudah diperbuat, apa yang masih perlu diperbaiki, dan dosa apa yang harus segera ditinggalkan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, malam Nisfu Syaban 2026 hadir sebagai pengingat lembut bahwa manusia tidak hanya butuh target dan pencapaian, tetapi juga ketenangan jiwa.
Bahwa sebelum Ramadan tiba dengan segala kemuliaannya, ada satu malam yang mengajak kita untuk menunduk, diam, dan kembali pulang—kepada Allah SWT.
Malam itu singkat, tetapi maknanya panjang. Ia bukan tentang seberapa lama kita terjaga, melainkan seberapa sungguh kita membuka hati.