- Ibu kopilot, Indah Aripuddin, dirawat intensif karena syok setelah menerima kabar pesawat putranya kecelakaan.
- Kopilot Muhammad Farhan Gunawan bertugas di pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
- Harapan keluarga sempat muncul karena ponsel Farhan ditemukan, namun data pergerakan di jam tangan ternyata rekaman lama.
SuaraSulsel.id - Tangis ibu kopilot, Indah Aripuddin pecah. Begitu Bupati Luwu Timur, Irwan Bahri Syam melangkah masuk ke ruang perawatan Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Dody Sarjoto.
Tubuh perempuan itu tampak lemah, terbaring dengan infus masih terpasang di tangan. Namun begitu menyebut nama putranya, air matanya tak lagi terbendung.
"Anakku, Pak Haji… Anakku kasihan," ucap Indah terbata diselingi isak histeris yang membuat suasana ruangan seketika hening.
Putra yang dimaksud Indah adalah Muhammad Farhan Gunawan, kopilot pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Baca Juga:Tim SAR Temukan Potongan Tubuh Korban Pesawat ATR 42-500
Sejak kabar pesawat itu hilang kontak, hidup Indah seolah runtuh dalam sekejap.
Indah kini dirawat intensif akibat syok berat. Kondisi psikisnya terguncang setelah menerima kabar tentang insiden yang menimpa Farhan, anak yang selama ini menjadi kebanggaannya.
Setiap kali nama Farhan disebut, tangis Indah kembali pecah memaksa tim medis dan keluarga menenangkannya.
Kerabat Indah, Mardiaty menceritakan detik-detik awal keluarga menerima kabar buruk itu.
Saat peristiwa terjadi, Indah sebenarnya tengah berada di rumah Mardiaty menghadiri persiapan pernikahan, yang juga merupakan sepupu Farhan.
Baca Juga:7 Rahasia Black Box Pesawat yang Jarang Diketahui Publik
Rumah saat itu dipenuhi suasana bahagia tawa, rencana, dan harapan baru sebuah keluarga. Namun, suasana itu berubah drastis ketika sebuah panggilan telepon masuk.
"Adikku sedang sibuk mengurus pernikahan anak pertama kami, yang juga ponakannya. Tiba-tiba dia dapat kabar kalau pesawat Farhan hilang kontak," kata Mardiaty lirih.
Tak ingin merusak kebahagiaan keluarga yang sedang berkumpul, Indah memilih pergi diam-diam. Ia tak mengatakan apa pun, hanya mengambil tas dan meninggalkan rumah dengan wajah pucat.
Keluarga baru mengetahui alasan kepergiannya setelah kabar duka itu benar-benar sampai.
"Kabar itu ternyata ujian berat dari Allah untuk kami semua," ujar Mardiaty.
Di mata keluarga, Farhan bukan sekadar seorang pilot. Ia adalah anak yang dikenal ramah, murah senyum, dan mudah akrab dengan siapa saja.