3 Calon Rektor Unhas Diberi Waktu 5 Menit untuk Meyakinkan MWA

Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin periode 2026-2030 akan digelar pada Rabu, 14 Januari 2026

Muhammad Yunus
Selasa, 13 Januari 2026 | 15:30 WIB
3 Calon Rektor Unhas Diberi Waktu 5 Menit untuk Meyakinkan MWA
Dokumentasi: Tiga calon rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar periode 2026 - 2030 resmi melangkah ke tahap akhir pemilihan. Mereka adalah Prof Jamaluddin Jompa, Prof Budu, dan Prof Sukardi Weda [Suara.com/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Pemilihan Rektor Unhas periode 2026-2030 akan dilaksanakan pada Rabu, 14 Januari 2026, di Kampus Unhas Jakarta oleh 17 anggota MWA.
  • Tiga calon rektor hanya akan diberi lima menit untuk presentasi visi dan program sebelum pemungutan suara dilaksanakan oleh MWA.
  • Sebanyak 17 pemilik hak suara MWA terdiri atas unsur Dikti Saintek, gubernur, alumni, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat.

SuaraSulsel.id - Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2026-2030 akan digelar pada Rabu, 14 Januari 2026 besok.

Pemilihan berlangsung dalam rapat paripurna Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas di Kampus Unhas Jakarta, Jalan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

Sebanyak 17 pemilik hak suara akan menentukan siapa yang kelak memimpin kampus kebanggaan Indonesia Timur itu.

Tak ada debat terbuka atau adu retorika panjang. Tiga calon rektor hanya diberi waktu lima menit presentasi kertas kerja, visi, dan program unggulan di hadapan MWA sebelum dilakukan pemungutan suara.

Baca Juga:Pemilihan Rektor Unhas Periode 2026-2030 Digelar 14 Januari 2026

Salah satu calon rektor, Prof Jamaluddin Jompa mengatakan lima menit itu bukan sekadar kesempatan, melainkan momentum refleksi.

Sebagai rektor petahana, ia akan memaparkan tentang capaian dan keberlanjutan.

Dalam proses penjaringan di tingkat senat akademik pada November lalu, Jamaluddin meraih dukungan dominan dengan 74 suara.

Dua rivalnya, Prof Budu dan Prof Sukardi Weda, masing-masing memperoleh 18 suara dan satu suara.

Namun, angka itu tak lagi relevan di hadapan MWA. Perolehan suara Jamaluddin dianggap sama dengan dua calon lainnya.

Baca Juga:Ini Daftar Tokoh Penentu Rektor Unhas Periode 2026-2030

"Saya sebagai salah satu kandidat tidak punya target jumlah suara. Saya serahkan sepenuhnya pada mekanisme yang ada secara demokratis dan profesional," kata Jamaluddin saat dikonfirmasi, Selasa, 13 Januari 2025.

Lima menit yang akan ia gunakan di depan MWA, menurut Jamaluddin, akan diisi pemaparan capaian selama masa kepemimpinannya sekaligus rencana terobosan untuk mengakselerasi indikator-indikator kunci yang telah ditetapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Baginya, pemilihan rektor hanyalah mekanisme rutin. Siapapun yang terpilih harus saling support.

"Unhas harus tetap utuh, kokoh, bermartabat, dan tidak terpecah belah," sebutnya.

Lima menit juga menjadi panggung pembuktian bagi Prof Sukardi Weda. Guru besar Universitas Negeri Makassar itu sendiri memberi kejutan sejak awal.

Satu suara di tingkat senat akademik cukup mengantarkannya ke bursa tiga besar calon rektor Unhas. Bersaing dengan dua figur lain.

Tanpa lobi, tanpa komunikasi personal dengan anggota MWA, Sukardi bilang ia percaya diri memilih bertaruh pada gagasan.

"Saya tidak pernah melakukan komunikasi dengan siapa pun sama seperti di senat lalu. Semoga dengan pemaparan visi misi, bisa menarik perhatian MWA memberikan suara ke saya," ujarnya.

Menurut Sukardi, seluruh calon memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi rektor Unhas. Ia menilai penentuan suara akan sangat bergantung pada kualitas visi dan program kerja yang disampaikan dalam waktu lima menit.

"Saya yakini semua calon punya kesempatan yang sama. Hemat saya, kuncinya di program kerja yang tertuang dalam visi misi," katanya.

Sukardi berencana memadatkan 11 program unggulan ke dalam tiga core pembangunan.

Dua di antaranya menitikberatkan pada peningkatan reputasi akademik dan kesejahteraan sivitas akademika.

Kemudian, ada satu gagasan yang mencuri perhatian publik. Sukardi menyebut ia berencana membangunan jalan layang atau fly over di pintu masuk Unhas.

Ia menegaskan persoalan kemacetan di akses keluar-masuk kampus sudah lama menjadi keluhan yang meresahkan.

Fly over itu akan dibangun dari perempatan tugu depan Hotel Unhas, melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan hingga mengarah ke pusat kota.

"Pada jam-jam tertentu pagi maupun sore hari, kemacetan panjang sering terjadi baik di pintu 1 maupun pintu 2 Unhas. Untuk mengurainya, perlu dibangun jalan layang," ujarnya.

Sementara itu, calon rektor lainnya, Prof Budu belum memberikan pernyataan. Upaya konfirmasi yang dilakukan belum mendapat respons.

Penentu Rektor Unhas

Kepala Bidang Humas Unhas, Ishaq Rahman menjelaskan, dari total 19 anggota MWA Unhas, hanya 17 orang yang memiliki hak suara dalam pemilihan rektor.

Dua anggota yang tidak memiliki hak pilih adalah rektor yang sedang menjabat Prof Jamaluddin Jompa dan Ketua Senat Unhas, Prof Baharuddin Thalib.

"Sesuai aturan rektor yang masih menjabat dan ketua senat tidak memiliki hak suara, tetapi tetap hadir dalam rapat MWA," kata Ishaq.

Sebanyak 17 anggota MWA pemilik hak suara terdiri atas empat unsur ex-officio, delapan unsur perwakilan dosen, dua unsur perwakilan tenaga kependidikan, dan tiga unsur masyarakat.

Dari unsur Ex-Officio sebanyak empat orang yaitu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Dikti Saintek) Brian Yuliarto, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Unhas Andi Amran Sulaiman dan Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unhas.

Unsur perwakilan dosen sebanyak delapan orang. Diantaranya Prof Alimuddin Unde, Prof Andi Niartiningsih, Prof Andi Zulkifli, Prof Asmuddin Natsir, Prof Dwia Aries Tina, Prof Hasanuddin, Prof Kartini dan Prof Arsyad Thaha.

Kemudian unsur perwakilan tenaga kependidikan sebanyak dua orang, yakni Fadly Rivai dan Jumiaty Nurung.

Untuk unsur masyarakat sebanyak tiga orang yakni Tony Wenas, Arsjad Rasjid dan Prof Sangkot Marzuki.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini