"Pro dan kontra sempat ada. Tapi kita juga harus bertahan dengan teori dan metodologi dari judul. Sehingga tidak ada alasan bagi dosen pembimbing untuk tidak terima," jelasnya.
Kata Fadly, dari buku yang ia baca, gereja tidak pernah ada dengan sendirinya. Namun selalu berada dalam relasi dan persekutuan dengan yang lain.
Sama halnya dengan karakter anggota dalam kelompok "Topi Jerami". Mereka bersatu dengan keunikannya masing-masing, lalu mengarungi laut untuk mencapai mimpi bersama-sama.
Jika diibaratkan dalam gereja, komunitas ini adalah persekutuan yang utuh walau banyak perbedaan. Mulai dari suku, ras, dan bangsa.
"Cara seperti itu harusnya diterapkan di gereja. Bagaimana untuk mengarungi lautan dengan kasih walau banyak perbedaan," ungkapnya.
Upaya Faldy pun membuahkan hasil yang manis. Ia mendapat pujian dari kampusnya, hingga kini viral di internet.
"Riset di Fakultas Teologi UKI Toraja memang kita arahkan untuk mengkaji teologi modern seperti saat ini. Teologi Modern sangat berhubungan dengan pop-culture (budaya populer)," kata Wakil Dekan Fakultas Teologi UKI Toraja, Johana Tangirerung.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Baca Juga:Jepang Selidiki Gereja Unifikasi Setelah Pembunuhan Shinzo Abe