Para pelobi bisnis dan agen perjalanan telah mendesak Jepang untuk melonggarkan kendali perbatasannya lebih cepat.
Mereka mengatakan Jepang ditinggalkan oleh mitra-mitra dagang utamanya dan hal itu dapat membuatnya tertinggal secara ekonomi.
"Kita akan melihat dampak yang signifikan terhadap ekonomi," kata Shinichi Inoue, presiden maskapai All Nippon Airways, kepada pers, Jumat.
Dia menambahkan bahwa penurunan tajam nilai tukar yen terhadap dolar AS adalah "daya tarik yang sangat besar" bagi warga negara asing.
Baca Juga:Epidemiolog: Indonesia Siap Meninggalkan Fase Gawat Darurat Pandemi COVID-19
Mata uang Jepang melemah hingga menembus batas psikologis 145 yen per dolar pada Kamis, yang membuat ongkos perjalanan ke negara itu mencapai titik terendah dalam beberapa dekade.
Mulai 11 Oktober, Jepang akan memulihkan perjalanan wisata individu dan bebas visa bagi pengunjung dari negara-negara tertentu selama mereka telah divaksinasi.
Pada saat yang sama, negara itu juga akan mencabut batasan jumlah pengunjung per hari, yang kini sebanyak 50.000 orang.
Jepang kemungkinan juga akan merevisi regulasi yang memungkinkan hotel menolak tamu yang tidak menaati pencegahan infeksi, seperti memakai masker, jika terjadi lonjakan kasus, kata media lokal.
Jepang pada Juni secara resmi membolehkan turis masuk untuk pertama kalinya dalam dua tahun, tetapi pada Juli hanya ada sekitar 8.000 kedatangan.
Baca Juga:Hasil FP1 MotoGP Jepang 2022: Jack Miller Tercepat, Francesco Bagnaia Kedua
Sebelum pandemi, negara itu mencatat lebih dari 80.000 pengunjung per hari. (Antara)