Menelusuri Jejak Rel Kereta Api Belanda di Kota Makassar, Beroperasi Tahun 1923-1930

Jalur kereta api memanjang dari Makassar sampai Takalar, Sulawesi Selatan

Muhammad Yunus
Senin, 25 Juli 2022 | 13:24 WIB
Menelusuri Jejak Rel Kereta Api Belanda di Kota Makassar, Beroperasi Tahun 1923-1930
Nurhayati menunjukan lokasi rel kereta api di zaman Hindia Belanda yang kini menjadi jalan setapak dan halaman rumah warga [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

Awalnya, kereta api di Sulawesi Selatan memang direncanakan akan dibangun dari Makassar ke Parepare. Namun, jalur ke Parepare disebut cukup sulit.

Harus membutuhkan anggaran lebih karena melewati bukit dan laut. Jalur kereta harus dibuat melayang atau elevated.

Rel kereta api di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Rel kereta api di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Akan Dioperasikan Bulan Oktober 2022, Pertama di Indonesia Timur

Mimpi masyarakat Sulawesi Selatan untuk menikmati moda transportasi kereta api rupanya bakal segera terwujud. Ini adalah yang pertama di Indonesia Timur.

Baca Juga:ITB Ditunjuk Pimpin Riset Pengembangan Kereta Api Ringan Hybrid dan Cerdas

Pemerintah merencanakan akan mulai mengoperasikan kereta api pada bulan Oktober 2022. Untuk tahap pertama, pengoperasian akan dilakukan dari Kabupaten Maros ke Barru, begitupun sebaliknya. Sambil menunggu proses pembangunan untuk segmen E atau jalur Maros-Makassar.

"Kita rencana operasi di bulan Oktober. Panjangnya kurang lebih 71 Km dari Maros ke Barru. Ini akan menjadi peradaban baru bagi Sulawesi Selatan," ujar Kepala Balai Pengelolaan Kereta Api Sulawesi Selatan, Amanna Gappa.

Pengoperasian perdana sudah bisa digunakan untuk angkutan penumpang. Kata Amanna, ada dua unit kereta sementara yang disiapkan untuk tahap pertama. Setiap unit dilengkapi dengan tiga gerbong.

"Kapasitas kereta sementara bisa mengangkut sekitar 100 penumpang. Untuk kereta baru sedang diproduksi di Madiun, perkiraan triwulan II tahun 2023 sudah ada di Makassar," ujarnya.

Tarifnya juga cukup murah karena skema subsidi. Hanya berkisar Rp5.000 sampai Rp10.000.

Baca Juga:Hari Anak Nasional, KAI Ajak Siswa Berkenalan dengan Transportasi Kereta Api

"Kita sudah ada kontrak dengan penyelenggara sarana. Angkutan ini ditanggung pemerintah lewat skema perintis. Artinya, berbiaya murah. Kita belum target komersil," ujarnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini