facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

BMKG: Perketat Tata Ruang Berbasis Risiko Tsunami di Mamuju

Muhammad Yunus Kamis, 23 Juni 2022 | 10:01 WIB

BMKG: Perketat Tata Ruang Berbasis Risiko Tsunami di Mamuju
Tenda pengungsi di kawasan Stadion Manakarra Mamuju masih ditempati pengungsi pada hari keempat pasca gempa bermagnitudo 5,8 yang mengguncang wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu 11 Juni 2022 [SuaraSulsel.id/ANTARA]

Membangun permukiman yang relatif jauh dari pantai

SuaraSulsel.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyarankan pihak terkait perlu memperketat tata ruang berbasis risiko tsunami untuk wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Koordinator Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Iman Fathurochman dalam Kolokium Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Series 7 diikuti secara daring di Jakarta, mengatakan hal itu dilakukan dengan membangun permukiman yang relatif jauh dari pantai untuk antisipasi waktu tiba tsunami yang cepat.

"Terutama tsunami lokal akibat gempa bumi dan longsor atau atypical tsunami," ujar Iman, Rabu 22 Juni 2022.

Iman mengatakan Kabupaten Mamuju memiliki potensi tsunami yang dapat disebabkan oleh secondary effect atau efek sekunder, karena adanya kecuraman dari kontur wilayah tersebut.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jakarta Kamis 23 Juni: Umumnya Cerah Berawan

Wilayah Provinsi Sulawesi Barat, kata dia, merupakan salah satu daerah paling rawan gempa dan tsunami, terlihat dari historis kerusakan yang terjadi.

Catatan sejarah gempa BMKG menunjukkan sejak tahun 1915 di pesisir Sulawesi Barat sudah terjadi sembilan gempa merusak dan tsunami. Adapun dari sembilan kejadian, wilayah tersebut sudah terjadi tiga kali tsunami.

Dengan catatan gempa merusak tersebut, maka wilayah pesisir Sulawesi Barat menjadi salah satu kawasan paling aktif terjadi gempa destruktif di Sulawesi. Kemudian berdasarkan peta seismisitasnya, kawasan pesisir dan lepas pantai Sulawesi Barat memang memiliki aktivitas kegempaan yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, menurut Iman, mitigasi dilakukan secara konkret. Selain itu, perlu dilakukan peningkatan pemahaman dan latihan evakuasi mandiri dengan cara menjadikan guncangan gempa kuat sebagai peringatan dini tsunami.

"Kemudian perlu membangun bangunan tahan gempa sesuai dengan SNI, dan mengidentifikasi wilayah dengan potensi atypical tsunami untuk memperkuat strategi mitigasi," katanya. (Antara)

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Kaltim 23 Juni 2022, Diperkirakan Hujan Lebat Disertai Petir Terjadi di Wilayah Ini

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait