facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Melihat Dari Dekat Hewan Langka yang Masuk Daftar 7 Keajaiban Dunia, Ada di Timur Indonesia

Muhammad Yunus Minggu, 19 Juni 2022 | 12:08 WIB

Melihat Dari Dekat Hewan Langka yang Masuk Daftar 7 Keajaiban Dunia, Ada di Timur Indonesia
Wisatawan melihat hewan langka Komodo dari dekat di Pulau Komodo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

Hewan langka di Pulau Komodo yang masuk daftar tujuh keajaiban dunia

SuaraSulsel.id - Selasa, 14 Juni 2022 lalu, SuaraSulsel.id sempat mengunjungi Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata menakjubkan di Indonesia.

Pemerintah Indonesia memberi perhatian khusus untuk pengembangan kawasan tersebut. Karena ada hewan langka di Pulau Komodo yang masuk daftar tujuh keajaiban dunia.

Panorama alam yang ditawarkan Labuan Bajo memang luar biasa. Sejauh mata memandang terdapat deretan bukit yang dikelilingi lautan.

Untuk menjelajahi setiap gugusan pulau di Labuan Bajo, kita bisa menyewa kapal Phinisi. Apalagi jika ingin bersantai seperti berada di hotel terapung.

Baca Juga: Berkunjung ke Desa Wisata Sanjai di Bukittinggi

Phinisi. Kapal kebanggaan orang Sulawesi Selatan. Kapal layar ini sangat terkenal lantaran sejak dulu dipakai orang Sulsel untuk menjelajahi dunia hingga ke Afrika.

Di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur kapal ini bisa dijumpai dengan mudah. Ada puluhan Phinisi yang berjejer setiap harinya di dermaga untuk mengantar penumpang yang mau "island hopping" atau berwisata dari pulau ke pulau di taman nasional.

Layanan Phinisi sudah dilengkapi dengan nakhoda, fotografer, pemandu wisata, ABK, dan chef.

Kemudian ada kabin untuk tempat tidur ber-AC, kamar mandi, tempat bersantai dan mini bar.

Setiap kapal juga diberi nama yang unik. Seperti Musti Adil, Budi Agung, Alexa dan lain-lain. Harganya bervariasi. Tergantung fasilitas dan ukuran kapal.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata Horor di Jawa Barat, Berikut Lokasinya

Wisatawan menikmati indahnya pulau Padar dan pulau Komodo menggunakan Kapal Phinisi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]
Wisatawan menikmati indahnya pulau Padar dan pulau Komodo menggunakan Kapal Phinisi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

Pemilik kapal membanderol harga dari Rp1 juta hingga Rp6 juta per orang. Phinisi sudah siap mengantar kita berkeliling pulau.

Dengan harga itu, kita sudah disuguhkan makan tiga kali, ngopi, dan ngemil. Penumpang juga bisa minta berfoto dengan kamera profesional milik ABK.

"Ada tiga destinasi yang wajib dikunjungi jika sedang di Labuan Bajo. Pulau Padar, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo. Semuanya masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo," kata pemandu wisata kapal, Hugo.

Labuan Bajo Mulai Ramai Dikunjungi

Kapal Phinisi sudah ada di Labuan Bajo sejak tahun 2018. Para pengusaha berlomba-lomba menyediakan fasilitas kapal mewah. Semenjak kawasan wisata ini jadi destinasi super prioritas atau "Bali Baru".

Dulunya, wisatawan hanya menggunakan kapal cepat atau speedboat. Namun, kapasitasnya terbatas. Apalagi cukup rawan jika gelombang tinggi. Karena kapal harus melawan arus.

Awak kapal juga tak hanya penduduk lokal. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Makassar, Jawa, dan Bali.

Salah satunya Rusdi. Warga Makassar ini beralih profesi dari nelayan menjadi ABK Phinisi di Labuan Bajo.

"Ubah nasib, mbak. Jadi ABK lebih menjanjikan. Jika tak ada penumpang, maka bisa cari ikan," ujarnya.

Penghasilan mereka sangat menjanjikan di bulan seperti ini. Ratusan pengunjung setiap harinya berlayar ke pulau di Labuan Bajo. Untuk menikmati indahnya bentang alam.

Labuan Bajo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]
Labuan Bajo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

"Sangat ramai setelah pandemi. Di Padar saja pengunjung antre mendaki," ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Hugo dan Rusdi mengajak kami untuk menikmati pulau Padar terlebih dahulu. Pulau ini tergambar dalam mata uang Rp50 ribu.

Perjalanan dimulai dari dermaga hotel La Prima sejak pukul 04.30 Wita, dini hari. Jarak tempuh menggunakan Phinisi adalah empat jam.

"Kita harus berangkat dini hari supaya bisa trekking. Jam 10 pagi sudah sangat panas di sana," kata Hugo.

Walau cukup jauh, mata tak pernah bosan memandang. Di perjalanan kita bisa menikmati matahari terbit dari balik bukit di tengah lautan.

Jika beruntung, kita bisa melihat lumba-lumba dan ikan pari. Tentu saja perbukitan hijau ada di kiri-kanan.

Pulau Padar diapit oleh Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Luasnya hanya 2.017 hektare sehingga menjadi yang terkecil di antara keduanya.

Di Pulau Padar memang tak ada Komodo. Konon, pulau ini sempat terbakar hebat mengakibatkan komodo dan hewan lainnya ikut punah terbakar.

"Tapi banyak ular berbisa, jadi harus hati-hati. Jangan terlalu lama beristrahat di tempat yang banyak rumputnya," ungkapnya.

Untuk menikmati indahnya Pulau Padar, kita harus mendaki. Menapaki 818 anak tangga dengan kemiringan 45 derajat.

Tantangan lainnya adalah cuaca yang ekstra panas. Belum lagi vegetasi yang tumbuh hanya rerumputan.

"Jangan dipaksa jika tidak mampu sampai ke puncak. Selalu siaga untuk membawa air mineral," imbau Hugo kepada wisatawan.

Kata Hugo, pulau ini adalah tujuan utama para wisatawan. Setiap harinya ada ratusan pengunjung yang datang, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Rasa lelah terbayar ketika kaki berhasil menginjak tugu di puncak. Kita bisa melihat dengan jelas birunya lautan yang terbelah oleh bukit.

Tak cukup kata untuk menggambarkan indahnya pulau ini. Eksotis. Orang-orang menyebutnya sepetak surga yang ada di bagian Timur Indonesia.

Tak heran, Pulau Padar masuk dalam kategori 10 pantai yang unik di dunia. Unesco bahkan menjadikan tempat ini sebagai situs warisan dunia.

Wisatawan melihat hewan langka Komodo dari dekat di Pulau Komodo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]
Wisatawan melihat hewan langka Komodo dari dekat di Pulau Komodo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

Masuk Tujuh Keajaiban Dunia

Usai menikmati keindahan pulau Padar, kita menuju daerah yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia. Pulau Komodo.

Jaraknya sekitar dua jam dari pulau Padar. Di sini kita bisa melihat langsung komodo atau Varanus Komodoensis.

Kadal raksasa itu jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berkunjung ke pulau komodo.

Termasuk bagi yang memiliki penyakit kudis atau sedang datang bulan. Bukan dilarang berkunjung, tapi diminta untuk berhati-hati.

Sebab Komodo punya penciuman yang cukup tajam. Hewan ini bisa tiba-tiba menjadi agresif dan bergerak dengan cepat ketika mencium bau amis.

Namun tenang saja. Ada ranger atau pawang di taman nasional yang akan mendampingi. Kita tidak dibolehkan untuk bepergian sendiri.

Komodo juga ahli dalam membuat lubang. Lubang itu digunakan sebagai tempat beristirahat atau untuk kawin.

Pada saat sekarang ini, puncak kawin bagi kadal predator itu. Makanya untung-untungan jika bisa melihat langsung.

"Kalau musim kawin, mereka jarang keluar. Makanya kadang kita tidak bisa lihat langsung," ujar Hugo.

Suhu di Pulau komodo juga sangat panas. Itu sebabnya dilarang merokok di kawasan ini karena mudah terbakar, apalagi jika sedang musim kemarau.

Penduduk lokal sudah menganggap hewan tersebut adalah saudara. Mereka sering menamai diri sebagai Ata Modo yang tinggal di Tana Modo.

Artinya saudara komodo yang tinggal di tanah komodo.

Ada cerita legenda yang melekat di penduduk lokal sana. Konon, komodo merupakan anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Putri Naga.

Putri Naga melahirkan seorang anak laki-laki dan sebutir telur yang kemudian menetas menjadi komodo betina. Namun, kepercayaan itu memudar seiring dengan peradaban manusia.

Kini, kehidupan penduduk lokal dengan komodo merupakan sebuah hubungan yang tak terpisahkan. Mereka bisa hidup berdampingan dengan baik.

Sayangnya, populasi komodo terus menurun. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (UICN) mencatat hewan ini kini terancam punah. Populasinya yang tersisa hanya sekitar 5.000 ekor.

Wisatawan menikmati indahnya pulau Padar dan pulau Komodo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]
Wisatawan menikmati indahnya pulau Padar dan pulau Komodo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara Tambing]

Bisa Ditiru Oleh Sulawesi Selatan

Pengelolaan pariwisata di Labuan Bajo patut diacungi jempol. Penduduk di sana mulai sadar wisata.

Labuan Bajo dianggap sebagai daerah yang sukses menerapkan wisata berbasis digital. Seperti penarikan retribusi dan pedagang cinderamata kini menerapkan pembayaran secara digital yakni QRIS.

Hal yang patut dicontoh di tempat wisata lain. Sulawesi Selatan misalnya. Tak boleh ketinggalan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI), Causa Iman Karana mengatakan pengembangan pariwisata di Labuan Bajo dilakukan sangat baik. Bukan hanya karena memiliki sumber daya melimpah, namun karena pengelolaannya.

Labuan Bajo bahkan bisa memanfaatkan produk daerah lain. Phinisi misalnya.

"Terutama banyak kapal Phinisi yang dimanfaatkan. Padahal itu punya kita di Sulsel," ujar Causa.

Causa mengatakan tahun 2013 lalu, Labuan Bajo tak banyak dikenal. Namun seiring berjalannya waktu, pertumbuhannya sangat baik.

Hal ini harus dicontoh Sulawesi Selatan. Bank Indonesia selalu siap mendukung untuk pengembangan pariwisata.

Salah satu harapan besar untuk pengembangan pariwisata adalah peran media. Ia berharap media bisa mendukung pariwisata di Sulawesi Selatan, sama seperti di Labuan Bajo.

"Wartawan sangat berperan besar dalam membantu mempromosikan pariwisata di Sulsel agar makin dikenal, seperti Labuan Bajo," ungkap Causa.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait