Ajaran tarekat ini mulai besar di Sulawesi Selatan pada masa kerajaan Turikale di Maros, yang saat itu dipimpin Raja Andi Sanrima Daeng Parukka. Pada masa itu, ajaran ini juga sudah mulai menyebar ke seluruh nusantara.
Saat ini jemaah tarekat Khalwatyah Samman sudah mencapai puluhan ribu orang, yang tersebar di seluruh daerah di Tanah Air. Jemaah tarekat ini juga sudah banyak di negara Malaysia dan Brunei.
Puluhan ribu jemaah berkumpul di Maros setiap tahunnya dalam rangka peringatan Maulid sekaligus ziarah ke makam guru-guru mereka yang berada di tiga lokasi berbeda.
Pencetus awal tarekat Khalwatyah adalah Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samani Al-Hasani Al-Madani, seorang ulama besar Medinah, sekitar abad ke-18.
Baca Juga:Mengenal Bekasem, Kuliner Cirebon yang Disajikan untuk Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
"Yang membuat tarekat ini besar yakni pada masa raja keempat Kerajaan Turikale, bersama dengan Syekh Abdul Razak, membuat tarekat ini tidak lagi eksklusif bagi kalangan tertentu saja. Siapa saja boleh ikut. Tak heran kalau pengikutnya sangat banyak dan sampai ke luar negeri," jelas Syeikh Andi Wahyuddin Malik.
Perkembangan tarekat ini di Maros ditandai juga dengan bangunan monumental berupa masjid bernama Urwatul Wutsqa yang didirikan oleh raja keempat Turikale, berjuluk Syekh Abdul Qadir Jaelani pada tahun 1854.
Masjid inilah yang menjadi tempat awal pengembangan tarekat Khalwatyah Samman, selain Leppakomae dan Pattene di Maros.
Tak hanya menyimpan sejarah pengembangan Islam, khususnya tarekat Khalwatyah, salah satu masjid tertua di Maros ini juga menjadi tempat menggagas pendirian Kabupaten Maros, termasuk penentuan nama Maros.
Bangunan asli masjid ini tetap terjaga meskipun telah beberapa kali dipugar. Bahkan beduk dan mimbar yang hampir seumur dengan masjid itu juga masih terawat.
Baca Juga:Libur Maulid Nabi Muhammad SAW, Ribuan Pengunjung Serbu TMII
Karena tahun ini tren COVID-19 mulai turun dan vaksinasi terus digalakkan, Maulid Akbar kembali digelar.