“Ujian terberat saat saya saat terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya. Padahal saat itu saya sudah lolos skrining untuk vaksinasi,” ungkap Yudi.
Dilarikan ke RS Awal Bros karena sesak yang tak kunjung reda dengan proses sangat cepat, sungguh pengalaman yang tak bisa ia lupakan.
Dua hari di RS Awal Bros ia dirujuk ke RS Wahidin sebab hasil foto kedua paru makin meluas dan langsung masuk ke ICU. Saturasinya terus menurun.
Sesak semakin berat. Ia juga kehilangan nafsu makan, minum dengan intensitas demam sangat tinggi.
Baca Juga:Dibilang Ngemis, Aksi Galang Dana Mahasiswa Demi Bayar UKT Tuai Pro Kontra
“Rupanya saat itu virus Covid-19 sudah menyerang sampai ke paru-paru,” katanya.
Di saat kritis itulah, kata Yudi, ia mengingat semua kebaikan yang sudah Allah beri. “Di tengah kesulitan pasti ada kemudahan. Saya percaya itu,” ungkapnya.
Spirit pantang menyerah inilah yang ia coba bangun setiap hari. Semangat untuk sembuh dan berjuang melawan Covid dari ruang IC Covid-19.
Di saat yang sama, ia juga memikirkan jadwal ujian yang sudah disusun. Beruntung pascasarjana UMI memberi waktu sampai sembuh baru melaksanakan ujian. Minimal sudah pindah dari IC Covid-19 ke ruang perawatan. Intinya kata dr Yudi adalah doa.
“Jangan anggap enteng doa-doa. Saya pun percaya bisa seperti sekarang karena ada banyak doa dan cinta dari keluarga dan sahabat tentunya dengan bantuan pengobatan medis dengan full support dokter serta nakes dalam penanganan sangat besar. Selain juga obat-obatan tapi itu semua hanyalah media untuk proses kesembuhan yang paling utama adalah doa serta berserah kepada Allah yakin bisa sembuh,” tandasnya.