- Balai Karantina Kepri menggagalkan pengiriman ilegal 1.728 kuda laut kering melalui Bandara RHF Tanjungpinang pada 12 Oktober 2026.
- Paket tujuan Kendari tersebut menggunakan modus operandi palsu dengan mencantumkan keterangan isi kiriman sebagai makanan ringan.
- Seluruh barang bukti kini telah diserahkan kepada Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru.
SuaraSulsel.id - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Kepri) menggagalkan pengiriman 1.728 ekor kuda laut kering seberat 6,5 kilogram tanpa dokumen resmi, melalui Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang.
"Kuda laut ini rencananya dikirim menuju Kendari, Sulawesi Tenggara, tanpa dilengkapi dokumen persyaratan karantina. Pada paket, isi kiriman disebut sebagai makanan ringan," kata Kepala Karantina Kepri Hasim di Kota Tanjungpinang, Senin 12 Oktober 2026.
Hasim menjelaskan temuan bermula ketika petugas Balai Karantina Kepri petugas Aviation Security (Avsec) melakukan pengawasan barang di terminal kargo Bandara RHF, Senin (12/10).
Petugas mencurigai sebuah kardus milik perusahaan jasa pengiriman setelah paket tersebut melewati pemeriksaan mesin sinar-X.
Untuk memastikan isinya, paket kemudian dibuka dengan disaksikan petugas Avsec dan perwakilan perusahaan jasa pengiriman.
Alih-alih makanan ringan, kata dia, petugas menemukan ribuan kuda laut dalam kondisi kering.
"Modus yang digunakan adalah mengelabui petugas dengan memberikan keterangan makanan ringan," ungkapnya.
Lanjut Hasim menyebut ketika petugas meminta dokumen persyaratan karantina, perwakilan perusahaan jasa pengiriman tidak dapat menunjukkannya.
Selanjutnya, Karantina Kepri berkoordinasi dengan Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru guna melakukan identifikasi terhadap kuda laut tersebut.
Baca Juga: Syahrir: Penutupan Ekspor Benih Lobster Tak Cukup Hentikan Penyelundupan
Hasil identifikasi mencatat sebanyak 1.728 ekor kuda laut dari tiga jenis. Jumlah terbesar adalah Hippocampus kuda sebanyak 1.263 ekor dengan ukuran sekitar 13-19 sentimeter.
Lalu, Hippocampus spinosissimus sebanyak 452 ekor berukuran 11-14 sentimeter, dan Hippocampus comes sebanyak 13 ekor berukuran 12-14 sentimeter.
Hasim menegaskan lalu lintas kuda laut memerlukan persyaratan tertentu yang tidak hanya berkaitan dengan ketentuan karantina, tetapi juga ketentuan dari instansi yang berwenang di bidang konservasi.
"Karena tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan dan tidak dilaporkan kepada petugas, pengiriman tersebut kemudian dihentikan," ujar dia.
Hasim menambahkan kewajiban melaporkan dan menyerahkan media pembawa kepada petugas karantina di tempat pengeluaran diatur dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
Seluruh kuda laut yang diamankan petugas sudah diserahkan kepada Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru Satuan Pelayanan Tanjungpinang serta Satwas PSDKP Tanjungpinang-Pangkalan PSDKP Batam untuk penanganan lebih lanjut sesuai kewenangan masing-masing. Serah terima dilakukan di Kantor Satuan Pelayanan Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Tak Lagi Optimis Prabowo-Gibran 2 Periode, Gerindra Respons Santai: Pilpres Masih Jauh
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
- Jokowi Tampak Tak Lagi Optimistis Gibran Jadi Pasangan Prabowo di Pilpres 2029
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Syahrir: Penutupan Ekspor Benih Lobster Tak Cukup Hentikan Penyelundupan
-
Bandara Riyadh Diserang, Bagaimana Nasib Jemaah Umrah asal Makassar?
-
Menko Dudung Perintahkan Penangkapan Pemodal Penyelundupan Benih Lobster
-
Ritual Adat Santiago dan Kondisi Memprihatinkan di Makam Sultan Buton
-
Berapa Biaya Haji 2027 di Kota Makassar? Lebih Mahal dari Aceh