- Sebanyak 200 petani rumput laut di Kabupaten Takalar mulai menggunakan platform digital e-Seaweed pada September 2026.
- Platform kolaborasi berbagai lembaga ini bertujuan memperkuat pencatatan usaha, rantai pasok, dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
- Sistem pencatatan digital tersebut berdampak pada kemudahan akses pembiayaan formal bagi petani rumput laut skala kecil.
Menurut dia, pemerintah daerah memiliki peran dalam memperkuat koordinasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
“Data digital dapat membantu menghubungkan masyarakat produktif dengan layanan keuangan yang bertanggung jawab,” katanya.
Dukungan pembiayaan juga ditunjukkan melalui penyerahan simbolis fasilitas Pembiayaan Resi Gudang dari Bank Sulselbar kepada KOSPERMINDO dalam peluncuran e-Seaweed di Makassar.
Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas Bappebti, Kementerian Perdagangan, Diah Sandita Arisanti, mengatakan pencatatan usaha dan ketertelusuran rantai nilai dapat meningkatkan posisi petani dan koperasi dalam mengakses pembiayaan.
“Pencatatan yang lebih baik, ketertelusuran, dan Sistem Resi Gudang dapat membantu petani skala kecil dan koperasi meningkatkan nilai komoditas mereka sekaligus membuka peluang yang lebih besar untuk memperoleh pembiayaan,” ujarnya.
Takalar Jadi Lokasi Awal Penguatan Ekosistem
Bagi KOSPERMINDO, penerapan e-Seaweed di Takalar merupakan bagian dari pengembangan platform yang telah dimiliki koperasi sekaligus perluasan pemanfaatannya bagi anggota di Sulawesi Selatan.
Ketua KOSPERMINDO, Arman Arfah, mengatakan sistem tersebut ditujukan untuk memperkuat pengelolaan usaha dan transparansi dalam rantai pasok.
“Bagi koperasi kami, e-Seaweed membantu memperkuat pengelolaan usaha, meningkatkan transparansi, serta membangun kepercayaan dengan pembeli dan lembaga keuangan,” katanya.
Baca Juga: Cabai Rawit di Gorontalo Tembus Rp120 Ribu per Kilogram, Petani Ungkap Penyebabnya!
Selain penggunaan platform digital, program ini juga mencakup peningkatan kapasitas pengelola koperasi dan komunitas petani. Materinya antara lain edukasi keuangan, kewirausahaan, dan praktik usaha hijau.
Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, mengatakan program tersebut didukung melalui proyek Promise II Impact, yang didanai Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO).
“Melalui e-Seaweed, kami membantu petani rumput laut skala kecil mengubah aktivitas usaha sehari-hari mereka menjadi rekam jejak digital yang kredibel,” ujar Simrin.
Menurutnya, rekam jejak tersebut dapat meningkatkan visibilitas petani di mata lembaga keuangan dan membuka peluang pembiayaan untuk pengembangan usaha.
Duta Besar-designate Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, mengatakan program tersebut melanjutkan kerja sama Swiss dan Indonesia di sektor rumput laut, khususnya dalam menjawab tantangan akses pembiayaan.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Petani Rumput Laut Takalar Naik Kelas! Catat Usaha Lewat HP, Akses Modal Makin Gampang
-
Hadapi Kekeringan, PDAM Makassar Usul Pembangunan Bendung Karet di Sungai Tallo
-
Menteri PU Tiap Hari Pantau Stadion Sudiang: Bismillah Selesai..!
-
Pertamini dan Pengecer BBM di Kendari Dibongkar Petugas
-
Awas! Suhu Panas di Sulsel Bisa Tembus 45 Derajat, Ini Daftar Wilayah Masuk Status Siaga