Muhammad Yunus
Minggu, 21 Juni 2026 | 12:29 WIB
ilustrasi ojol (Khairul Akbar/Unsplash)
Baca 10 detik
  • Ridwan, seorang pengemudi ojek daring di Makassar, bekerja selama 14 jam sehari demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
  • Pendapatan harian Ridwan sering kali tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional serta sepinya jumlah pesanan masuk.
  • Data BPS menunjukkan 63,13 persen pekerja di Sulawesi Selatan berada di sektor informal tanpa kepastian perlindungan ketenagakerjaan.

Dalam sehari, Ridwan rata-rata memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp150 ribu. Namun angka itu belum termasuk berbagai biaya operasional yang harus ditanggung sendiri.

Bensin menjadi pengeluaran terbesar. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar Rp60 ribu untuk dua kali pengisian bahan bakar. Belum termasuk biaya makan, kuota internet, hingga perawatan motor yang menjadi alat kerjanya.

"Yang tersisa ya tidak banyak. Kadang sisa Rp80 ribu. Ditabung untuk bantu orang tua beli kebutuhan di dapur juga," katanya sambil tersenyum tipis.

Belakangan, menurut Ridwan, mencari penghasilan juga terasa semakin berat.

Jumlah pesanan yang masuk tidak sebanyak beberapa tahun lalu. Di saat yang sama, biaya hidup terus meningkat. Bahkan ongkos kirim yang naik pada jam-jam tertentu sering membuat pelanggan mengurungkan niat memesan makanan atau barang.

"Kalau ongkirnya mahal orang juga mikir-mikir buat pesan. Malam begini itu ongkir naik drastis," ujarnya.

Cerita Ridwan bukanlah cerita yang berdiri sendiri.

Di tengah berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan pertumbuhan positif, jutaan pekerja di Sulawesi Selatan masih menggantungkan hidup pada sektor informal yang rentan terhadap perubahan kondisi pasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) November 2025 menunjukkan jumlah pekerja informal di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 3 juta orang atau 63,13 persen dari total penduduk yang bekerja.

Baca Juga: Pria Tega Perintahkan Istri Buang Bayi Masih Diburu Polisi

Angka itu menempatkan Sulsel sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pekerja informal terbesar di Indonesia.

Kelompok ini mencakup pedagang kaki lima, buruh tani, pekerja rumah tangga, hingga pengemudi ojek online seperti Ridwan.

Besarnya jumlah pekerja informal menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat bekerja tanpa perlindungan ketenagakerjaan yang memadai, tanpa kepastian pendapatan, dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi sehari-hari.

Padahal, secara makro, perekonomian Sulawesi Selatan sedang mencatatkan kinerja yang cukup baik.

Pada triwulan I 2026, ekonomi Sulsel tumbuh 6,88 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, perdagangan, pertanian, dan sektor jasa.

Namun bagi pekerja seperti Ridwan, angka pertumbuhan ekonomi belum tentu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Load More