- Ridwan, seorang pengemudi ojek daring di Makassar, bekerja selama 14 jam sehari demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
- Pendapatan harian Ridwan sering kali tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional serta sepinya jumlah pesanan masuk.
- Data BPS menunjukkan 63,13 persen pekerja di Sulawesi Selatan berada di sektor informal tanpa kepastian perlindungan ketenagakerjaan.
Dalam sehari, Ridwan rata-rata memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp150 ribu. Namun angka itu belum termasuk berbagai biaya operasional yang harus ditanggung sendiri.
Bensin menjadi pengeluaran terbesar. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar Rp60 ribu untuk dua kali pengisian bahan bakar. Belum termasuk biaya makan, kuota internet, hingga perawatan motor yang menjadi alat kerjanya.
"Yang tersisa ya tidak banyak. Kadang sisa Rp80 ribu. Ditabung untuk bantu orang tua beli kebutuhan di dapur juga," katanya sambil tersenyum tipis.
Belakangan, menurut Ridwan, mencari penghasilan juga terasa semakin berat.
Jumlah pesanan yang masuk tidak sebanyak beberapa tahun lalu. Di saat yang sama, biaya hidup terus meningkat. Bahkan ongkos kirim yang naik pada jam-jam tertentu sering membuat pelanggan mengurungkan niat memesan makanan atau barang.
"Kalau ongkirnya mahal orang juga mikir-mikir buat pesan. Malam begini itu ongkir naik drastis," ujarnya.
Cerita Ridwan bukanlah cerita yang berdiri sendiri.
Di tengah berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan pertumbuhan positif, jutaan pekerja di Sulawesi Selatan masih menggantungkan hidup pada sektor informal yang rentan terhadap perubahan kondisi pasar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) November 2025 menunjukkan jumlah pekerja informal di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 3 juta orang atau 63,13 persen dari total penduduk yang bekerja.
Baca Juga: Pria Tega Perintahkan Istri Buang Bayi Masih Diburu Polisi
Angka itu menempatkan Sulsel sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pekerja informal terbesar di Indonesia.
Kelompok ini mencakup pedagang kaki lima, buruh tani, pekerja rumah tangga, hingga pengemudi ojek online seperti Ridwan.
Besarnya jumlah pekerja informal menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat bekerja tanpa perlindungan ketenagakerjaan yang memadai, tanpa kepastian pendapatan, dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi sehari-hari.
Padahal, secara makro, perekonomian Sulawesi Selatan sedang mencatatkan kinerja yang cukup baik.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Sulsel tumbuh 6,88 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, perdagangan, pertanian, dan sektor jasa.
Namun bagi pekerja seperti Ridwan, angka pertumbuhan ekonomi belum tentu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Gubernur Sulsel Groundbreaking Pembangunan Rumah Layak Huni di Takalar
-
285 Jiwa di Parigi Moutong Terdampak Gempa
-
Pemprov Sultra Bakal Lelang Kendaraan Dinas, Ini Jadwal dan Cara Ikut
-
Berjuang Hingga Dini Hari, Ojol di Makassar Ungkap Pahitnya Data Pertumbuhan Ekonomi
-
Pria Tega Perintahkan Istri Buang Bayi Masih Diburu Polisi