- Ridwan, seorang pengemudi ojek daring di Makassar, bekerja selama 14 jam sehari demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
- Pendapatan harian Ridwan sering kali tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional serta sepinya jumlah pesanan masuk.
- Data BPS menunjukkan 63,13 persen pekerja di Sulawesi Selatan berada di sektor informal tanpa kepastian perlindungan ketenagakerjaan.
SuaraSulsel.id - Jarum jam hampir menunjuk pukul 23.00 Wita ketika layar ponsel yang terpasang di setang motor Ridwan, driver Ojol, kembali menyala.
Bukan pesanan baru. Hanya notifikasi biasa.
Di salah satu sudut sebuah kedai kopi 24 jam di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, pemuda berusia 22 tahun itu menunggu sambil sesekali melirik layar aplikasinya. Sudah beberapa menit berlalu, tetapi belum ada order yang masuk.
"Kalau sekarang memang agak sepi," ucapnya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ridwan sudah terbiasa dengan malam-malam panjang seperti itu.
Sejak 2021, tak lama setelah lulus SMA, ia menjadi pengemudi ojek online. Saat itu pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berlalu dan lapangan kerja semakin sulit ditemukan.
Apa yang awalnya dianggap pekerjaan sementara ternyata menjadi satu-satunya sumber penghasilan hingga hari ini.
"Bukan karena cita-cita jadi ojol. Memang tidak ada pilihan lain, sementara kita butuh makan," ujarnya.
Setiap hari, rutinitasnya nyaris sama.
Baca Juga: Pria Tega Perintahkan Istri Buang Bayi Masih Diburu Polisi
Pukul 08.00 pagi ia mulai menerima pesanan penumpang maupun layanan antar barang dan makanan. Menjelang siang, sekitar pukul 13.00 Wita, ia pulang sejenak ke rumahnya di Maros untuk beristirahat.
Namun waktu istirahat itu tidak berlangsung lama.
Menjelang magrib, Ridwan kembali menyalakan motornya dan masuk ke jalanan Makassar. Ia baru benar-benar berhenti bekerja sekitar pukul 03.00 dini hari.
Artinya, hampir 14 jam dalam sehari dihabiskan untuk mengejar pesanan.
Semua itu dilakukan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Meski bekerja belasan jam, penghasilannya tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
Dalam sehari, Ridwan rata-rata memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp150 ribu. Namun angka itu belum termasuk berbagai biaya operasional yang harus ditanggung sendiri.
Bensin menjadi pengeluaran terbesar. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar Rp60 ribu untuk dua kali pengisian bahan bakar. Belum termasuk biaya makan, kuota internet, hingga perawatan motor yang menjadi alat kerjanya.
"Yang tersisa ya tidak banyak. Kadang sisa Rp80 ribu. Ditabung untuk bantu orang tua beli kebutuhan di dapur juga," katanya sambil tersenyum tipis.
Belakangan, menurut Ridwan, mencari penghasilan juga terasa semakin berat.
Jumlah pesanan yang masuk tidak sebanyak beberapa tahun lalu. Di saat yang sama, biaya hidup terus meningkat. Bahkan ongkos kirim yang naik pada jam-jam tertentu sering membuat pelanggan mengurungkan niat memesan makanan atau barang.
"Kalau ongkirnya mahal orang juga mikir-mikir buat pesan. Malam begini itu ongkir naik drastis," ujarnya.
Cerita Ridwan bukanlah cerita yang berdiri sendiri.
Di tengah berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan pertumbuhan positif, jutaan pekerja di Sulawesi Selatan masih menggantungkan hidup pada sektor informal yang rentan terhadap perubahan kondisi pasar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) November 2025 menunjukkan jumlah pekerja informal di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 3 juta orang atau 63,13 persen dari total penduduk yang bekerja.
Angka itu menempatkan Sulsel sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pekerja informal terbesar di Indonesia.
Kelompok ini mencakup pedagang kaki lima, buruh tani, pekerja rumah tangga, hingga pengemudi ojek online seperti Ridwan.
Besarnya jumlah pekerja informal menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat bekerja tanpa perlindungan ketenagakerjaan yang memadai, tanpa kepastian pendapatan, dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi sehari-hari.
Padahal, secara makro, perekonomian Sulawesi Selatan sedang mencatatkan kinerja yang cukup baik.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Sulsel tumbuh 6,88 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, perdagangan, pertanian, dan sektor jasa.
Namun bagi pekerja seperti Ridwan, angka pertumbuhan ekonomi belum tentu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Yang ia hitung bukanlah persentase pertumbuhan ekonomi, melainkan jumlah order yang masuk ke aplikasi, harga bensin yang harus dibayar, dan uang yang tersisa setelah bekerja hingga dini hari.
Ekonom Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo menilai tingginya jumlah pekerja informal berkaitan erat dengan persoalan kemiskinan struktural dan terbatasnya lapangan kerja formal.
Menurutnya, rendahnya tingkat pengangguran terbuka tidak selalu mencerminkan kondisi pasar kerja yang sehat.
"Meski angka pengangguran terbuka di Sulsel sekitar 4,45 persen, banyak masyarakat yang sebenarnya berada dalam kondisi underemployment atau bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak memadai," katanya, Minggu, 21 Juni 2026.
Sutardjo menjelaskan gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor serta terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal membuat banyak orang terpaksa mencari nafkah di sektor informal.
Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan kompetensinya karena pilihan yang tersedia sangat terbatas.
"Sektor informal akhirnya menjadi semacam pelampung bagi mereka yang tidak terserap ke sektor formal," ujarnya.
Karena itu, menurut Sutardjo, persoalan utama bukan semata-mata besaran upah minimum, melainkan bagaimana menciptakan pekerjaan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Ia mendorong pemerintah daerah mempercepat industrialisasi yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, memperkuat pelatihan vokasi, serta membangun keterhubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
Selain itu, usaha-usaha kecil yang selama ini berada di sektor informal juga perlu didorong naik kelas melalui akses pembiayaan, teknologi, pelatihan, dan insentif usaha.
"Pemerintah mesti fokus pada kualitas pekerjaan, bukan hanya kuantitas pekerjaan," katanya.
Menjelang tengah malam, ponsel Ridwan akhirnya berbunyi.
Sebuah pesanan makanan masuk dari aplikasi.
Ia segera mengenakan helm, menyalakan motor, lalu melaju menembus jalanan kota Makassar yang mulai lengang.
Bagi Ridwan, tidak banyak pilihan selain terus bekerja.
Sebab ketika harga kebutuhan hidup terus naik dan pekerjaan formal semakin sulit didapat, setiap notifikasi pesanan yang masuk berarti satu kesempatan untuk bertahan hidup satu hari lagi.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Gubernur Sulsel Groundbreaking Pembangunan Rumah Layak Huni di Takalar
-
285 Jiwa di Parigi Moutong Terdampak Gempa
-
Pemprov Sultra Bakal Lelang Kendaraan Dinas, Ini Jadwal dan Cara Ikut
-
Berjuang Hingga Dini Hari, Ojol di Makassar Ungkap Pahitnya Data Pertumbuhan Ekonomi
-
Pria Tega Perintahkan Istri Buang Bayi Masih Diburu Polisi