Muhammad Yunus
Senin, 10 Agustus 2026 | 17:42 WIB
Pedagang bendera menjajakan dagangannya di pinggir jalan di kota Makassar. Setiap Agustus, banyak pedagang dari luar kota memanfaatkan momentum perayaan kemerdekaan mendapatkan rupiah [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Herman, pedagang asal Surabaya, rutin menjual bendera di Makassar setiap Agustus sejak 2017 dan meraup omzet puluhan juta rupiah.
  • Saidil Ammar, warga pendatang asal Sukabumi yang menetap di Makassar, menjual bendera buatan istrinya pada siang hari dan sari laut saat malam.
  • Kedua pedagang tersebut memanfaatkan momentum perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di Makassar untuk mendapatkan tambahan penghasilan keluarga.

SuaraSulsel.id - Menjelang 17 Agustus, Jalan AP Pettarani, Urip Sumoharjo dan Perintis Kemerdekaan Makassar mulai berubah warna.

Bendera Merah dan putih bergelantungan di antara deretan lapak pedagang. Ada bendera kecil untuk kendaraan, bendera untuk halaman rumah, hingga ukuran besar yang dipesan khusus.

Di balik semarak merah putih itu, ada orang-orang yang melihat Agustus bukan sekadar bulan perayaan kemerdekaan. Bagi mereka momentum itu juga menjadi musim untuk mengais rezeki.

Salah satunya Herman, 48 tahun.

Herman bukan warga Makassar. Ia berasal dari Surabaya. Namun, setiap memasuki bulan Agustus, ia kembali datang ke Makassar membawa dagangan bendera.

Sejak 2017, rutinitas itu terus dilakukannya.

"Sudah sejak 2017 ke sini (jual bendera)," kata Herman, Senin, 10 Agustus 2026.

Bendera-bendera yang dijual Herman didatangkan dari Surabaya menggunakan kapal laut. Setibanya di Makassar, ia kemudian membuka lapak di Jalan AP Pettarani.

Bagi Herman dan keluarganya, berjualan berpindah dari satu kota ke kota lain bukan hal baru.

Baca Juga: Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan

Pedagang bendera menjajakan dagangannya di pinggir jalan di kota Makassar. Setiap Agustus, banyak pedagang dari luar kota memanfaatkan momentum perayaan kemerdekaan mendapatkan rupiah [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]

Mereka memang terbiasa berkeliling mengikuti momentum dan peluang dagang yang dianggap menjanjikan.

"Memang kami sering berkeliling dari kota ke kota untuk jualan. Makassar ini salah satu yang bagus karena cuannya lumayan lah," ungkapnya.

Keluarganya pun ikut berpencar mengikuti lokasi jualan masing-masing. Herman memilih Makassar, sementara anggota keluarganya berjualan di kota lain.

Istrinya, misalnya, berada di Surabaya. Sementara anaknya memilih Solo dan Yogyakarta sebagai lokasi berjualan.

Dengan cara itu, keluarga Herman memanfaatkan momentum yang sama di beberapa kota sekaligus.

Makassar sendiri bukan tanpa alasan dipilih. Setelah beberapa kali datang, Herman melihat pasar bendera di kota ini cukup menjanjikan.

Load More