Muhammad Yunus
Senin, 08 Juni 2026 | 13:07 WIB
Ilsutrasi: Siswa SMK di Sumedang, Jawa Barat [Suara.com/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Data BPS mencatat lulusan SMK di Sulawesi Selatan memiliki tingkat pengangguran tertinggi mencapai 9,74 persen pada November 2025.
  • Kesenjangan keterampilan antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri menyebabkan lulusan SMK sulit terserap di pasar kerja formal.
  • Dinas Pendidikan Sulsel meluncurkan program Pelajar Andalan untuk menyelaraskan kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

SuaraSulsel.id - Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK di Indonesia selama ini dipromosikan sebagai jalur pendidikan yang paling dekat dengan dunia kerja.

Kurikulumnya dirancang untuk menghasilkan lulusan siap pakai, memiliki keterampilan teknis, dan mampu langsung terserap industri setelah lulus. Namun, realitas di Sulawesi Selatan justru menunjukkan ironi yang berbeda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi dibandingkan seluruh jenjang pendidikan lainnya.

Di saat dunia pendidikan vokasi digadang-gadang sebagai tulang punggung penyedia tenaga kerja terampil, banyak alumninya justru masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Berdasarkan data BPS Sulsel, TPT pada Februari 2025 mencapai 4,96 persen atau naik 0,06 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari seluruh jenjang pendidikan, lulusan SMK mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 8,52 persen.

Angka tersebut jauh di atas lulusan SD ke bawah yang hanya 2,25 persen.

Kondisi serupa juga terlihat dalam hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025.

Saat itu, TPT Sulsel berada di angka 4,45 persen atau setara sekitar 219 ribu orang. Lagi-lagi, lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 9,74 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan di Sulsel masih banyak menimpa kelompok usia muda yang baru menyelesaikan pendidikan menengah.

Baca Juga: Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Rp15 Miliar untuk Infrastruktur dan UMKM Selayar

Kepala BPS Sulsel, Aryanto, menjelaskan kenaikan pengangguran terjadi di tengah berkurangnya jumlah angkatan kerja.

Pada November 2025, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 4,92 juta orang atau turun sekitar 46,9 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan sekitar 56,73 ribu orang.

Meski demikian, sektor akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja baru sepanjang periode tersebut.

Lulusan Vokasi Terjebak Masa Tunggu

Ekonom Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo menilai tingginya angka pengangguran lulusan SMK menjadi sinyal bahwa jalur transisi dari sekolah menuju dunia kerja belum berjalan optimal.

Menurutnya, ekonomi Sulsel memang masih mampu menciptakan lapangan kerja baru. Namun, pekerjaan yang tersedia belum tentu sesuai dengan kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan vokasi.

Akibatnya, banyak lulusan SMK yang akhirnya terjebak dalam fase menunggu pekerjaan atau terpaksa masuk ke sektor informal yang tidak sesuai dengan keahlian yang mereka pelajari selama sekolah.

"Tingkat pengangguran lulusan SMK yang paling tinggi menunjukkan pasar kerja belum mampu menyediakan jalur transisi yang rapi dari sekolah ke pekerjaan produktif," ujarnya, Sabtu, 6 Juni 2026.

Sutardjo mengatakan keberhasilan pendidikan vokasi seharusnya tidak diukur dari banyaknya sekolah atau jumlah jurusan yang dibuka.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak lulusan yang berhasil masuk ke dunia kerja formal dan bertahan dalam pekerjaan tersebut.

Menurutnya, persoalan ini muncul dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai, memiliki sertifikasi kompetensi yang relevan, serta pengalaman kerja yang sesuai kebutuhan industri.

Namun di sisi lain, sebagian sekolah vokasi masih menghasilkan lulusan dengan keterampilan yang belum sepenuhnya mengikuti perkembangan teknologi produksi maupun standar industri terkini.

"Sering kali keterampilan yang diajarkan tertinggal dibanding kebutuhan dunia usaha. Jadi persoalannya bukan siapa yang salah, melainkan siapa yang belum terkoneksi," katanya.

Ancaman Bonus Demografi

Sutardjo mengingatkan jika kondisi tersebut terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lulusan SMK, tetapi juga perekonomian daerah secara keseluruhan.

Dalam jangka pendek, meningkatnya pengangguran usia muda berpotensi menekan pendapatan rumah tangga dan menahan konsumsi masyarakat.

Efek lanjutan akan dirasakan sektor usaha kecil, perdagangan, hingga jasa yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat.

Sedangkan dalam jangka panjang, risiko yang lebih besar adalah hilangnya peluang memanfaatkan bonus demografi yang saat ini sedang dimiliki Indonesia.

Selain itu, jumlah pekerja informal berproduktivitas rendah bisa semakin meningkat, ketimpangan pendapatan melebar, dan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan vokasi berpotensi menurun.

"Kalau tidak segera diperbaiki, negara bisa kehilangan momentum bonus demografi yang seharusnya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Disdik Siapkan Program Pelajar Andalan

Menanggapi tingginya pengangguran lulusan SMK, Dinas Pendidikan Sulsel mengaku terus memperkuat keterhubungan antara sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri.

Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Nadjamuddin mengatakan pihaknya saat ini menjalankan program Pelajar Andalan sebagai upaya memperkuat pendidikan vokasi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar kerja.

Program tersebut dibangun melalui kolaborasi antara sekolah, dunia usaha, dunia industri, pemerintah, hingga lembaga pengembangan karier.

Menurut Iqbal, salah satu fokus utama program tersebut adalah memastikan lulusan SMK tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Melalui program itu, sebanyak 38.318 siswa SMK yang lulus pada 2026 akan mendapatkan berbagai pendampingan mulai dari penyelarasan kurikulum, digitalisasi layanan karier melalui akun SIAP Kerja, program magang, rekrutmen bersama industri, hingga pembinaan kewirausahaan.

"Tujuannya meningkatkan relevansi lulusan SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri serta menurunkan tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK," kata Iqbal, Minggu, 7 Juni 2026.

Ia optimistis kolaborasi yang lebih erat antara sekolah dan industri akan membuat lulusan vokasi tidak lagi menjadi pencari kerja semata, melainkan tenaga terampil yang dibutuhkan pasar.

"Bersama Pelajar Andalan kita ingin membangun masa depan di mana lulusan vokasi tidak lagi menunggu pekerjaan, tetapi dicari karena kompetensi dan relevansinya," ujarnya.

Di tengah bonus demografi yang sedang berlangsung, keberhasilan pendidikan vokasi menjadi salah satu kunci penting bagi masa depan Sulawesi Selatan.

Sebab, jika lulusan SMK yang dipersiapkan menjadi tenaga kerja andal justru terus menganggur, maka persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar pendidikan, melainkan juga masa depan ekonomi daerah.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More