- Data BPS mencatat lulusan SMK di Sulawesi Selatan memiliki tingkat pengangguran tertinggi mencapai 9,74 persen pada November 2025.
- Kesenjangan keterampilan antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri menyebabkan lulusan SMK sulit terserap di pasar kerja formal.
- Dinas Pendidikan Sulsel meluncurkan program Pelajar Andalan untuk menyelaraskan kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
SuaraSulsel.id - Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK di Indonesia selama ini dipromosikan sebagai jalur pendidikan yang paling dekat dengan dunia kerja.
Kurikulumnya dirancang untuk menghasilkan lulusan siap pakai, memiliki keterampilan teknis, dan mampu langsung terserap industri setelah lulus. Namun, realitas di Sulawesi Selatan justru menunjukkan ironi yang berbeda.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi dibandingkan seluruh jenjang pendidikan lainnya.
Di saat dunia pendidikan vokasi digadang-gadang sebagai tulang punggung penyedia tenaga kerja terampil, banyak alumninya justru masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Berdasarkan data BPS Sulsel, TPT pada Februari 2025 mencapai 4,96 persen atau naik 0,06 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari seluruh jenjang pendidikan, lulusan SMK mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 8,52 persen.
Angka tersebut jauh di atas lulusan SD ke bawah yang hanya 2,25 persen.
Kondisi serupa juga terlihat dalam hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025.
Saat itu, TPT Sulsel berada di angka 4,45 persen atau setara sekitar 219 ribu orang. Lagi-lagi, lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 9,74 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan di Sulsel masih banyak menimpa kelompok usia muda yang baru menyelesaikan pendidikan menengah.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Rp15 Miliar untuk Infrastruktur dan UMKM Selayar
Kepala BPS Sulsel, Aryanto, menjelaskan kenaikan pengangguran terjadi di tengah berkurangnya jumlah angkatan kerja.
Pada November 2025, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 4,92 juta orang atau turun sekitar 46,9 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami penurunan sekitar 56,73 ribu orang.
Meski demikian, sektor akomodasi dan makan minum menjadi lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja baru sepanjang periode tersebut.
Lulusan Vokasi Terjebak Masa Tunggu
Ekonom Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo menilai tingginya angka pengangguran lulusan SMK menjadi sinyal bahwa jalur transisi dari sekolah menuju dunia kerja belum berjalan optimal.
Menurutnya, ekonomi Sulsel memang masih mampu menciptakan lapangan kerja baru. Namun, pekerjaan yang tersedia belum tentu sesuai dengan kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan vokasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Beli Sunscreen Wardah Online Original Hanya di Blibli, Cek Varian Sesuai Kulitmu
-
Kabar Baik untuk PPPK yang Gaji Sering Terlambat, Pusat Turun Tangan
-
Pimpinan KPK Bongkar Cara Agar Kepala Daerah Tidak Terjaring OTT
-
Jawab Keluhan Warga Maros, Gubernur Sulsel Gelontorkan 239 Miliar di Jalan Moncongloe
-
Harta Ketua DPRD Bone Disorot, KPK: Kalau Tidak Benar Kami Tindak