- APJII merilis Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang mencatat penetrasi internet nasional mencapai 81,7 persen atau 235.261.078 jiwa.
- Pulau Jawa menjadi kontributor pengguna internet terbesar nasional, meskipun terdapat kesenjangan digital yang masih terjadi antarwilayah di Indonesia.
- Dominasi penggunaan internet didorong oleh generasi muda untuk kebutuhan komunikasi, hiburan, pencarian informasi, serta transaksi ekonomi digital masyarakat.
Dari sisi aktivitas, masyarakat yang bekerja memiliki kontribusi penggunaan internet terbesar dengan penetrasi mencapai 84,9 persen.
Terkait alasan masyarakat menggunakan internet, aktivitas komunikasi dan jejaring sosial menjadi faktor terbesar dengan persentase 19,9 persen, diikuti hiburan digital seperti streaming dan game sebesar 19,7 persen, pencarian informasi dan berita sebesar 19,6 persen, serta transaksi e-commerce dan layanan digital sebesar 18,7 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, bagi masyarakat yang belum terkoneksi internet, alasan utama yang paling banyak ditemukan adalah tidak memiliki perangkat yang dapat terkoneksi internet sebesar 34 persen, tidak mengetahui cara menggunakan perangkat digital sebesar 31,5 persen, dan harga kuota internet yang masih dianggap mahal sebesar 17,2 persen.
Sementara itu, kasus keamanan digital yang paling banyak dialami masyarakat pada tahun 2026 adalah penipuan online sebesar 13,6 persen dan pencurian data pribadi/hack/phishing sebesar 7,8 persen.
Selain itu, survei APJII tahun 2026 juga mencatat pertumbuhan pelanggan internet tetap (fixed broadband). Jumlah masyarakat yang berlangganan internet tetap mencapai 99.515.436 jiwa, dengan pertumbuhan pelanggan sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Mayoritas pelanggan internet tetap menggunakan layanan internet kabel/fiber sebesar 37,9 persen.
APJII menilai bahwa hasil survei ini diharapkan dapat menjadi referensi strategis bagi pemerintah, pelaku industri internet, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan strategi pengembangan ekosistem digital nasional yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.
“Semoga hasil survei kali ini tentunya berguna bukan hanya untuk APJII, tapi untuk rekan-rekan anggota APJII dan seluruh masyarakat Indonesia yang membutuhkannya,” pungkas Arif.
Baca Juga: Kabel Internet Bawah Laut Putus Akibat 'Gunung Api Tersembunyi', Koneksi Indonesia Timur Terancam
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Gorontalo Diprediksi Dilanda Kekeringan Panjang hingga Februari 2027, Kabupaten Ini Paling Rawan
-
BRI Group Kembali Ukir Prestasi Global, Raih Enam Penghargaan dari Finance Asia
-
Gubernur Sulsel Raih Bakti Koperasi Nayaka Mahambara di Ajang Koperasi Awards 2026
-
Transaksi Qlola Tumbuh 51 Persen, BRI Perkuat Platform Digital untuk Nasabah Bisnis
-
Penyandang Disabilitas Jadi Korban Tewas Kebakaran di Paccerakkang Makassar