- Kota Makassar mengalami lonjakan kasus kekerasan jalanan, perampokan, dan premanisme yang dilakukan oleh kelompok remaja selama Mei 2026.
- Para ahli menilai kriminalitas tersebut dipicu oleh tekanan ekonomi serta minimnya lapangan kerja bagi kelompok usia muda.
- Polisi melakukan penindakan hukum dan pendekatan sosial, namun pakar menekankan perlunya solusi ekonomi untuk mengatasi akar masalah.
Praktik premanisme juga muncul dalam bentuk berbeda. Seorang juru parkir bernama Herman di kawasan Pasar Ikan sempat viral karena mematok tarif ke pengendara sebesar Rp20.000.
Ia berdalih kendaraan diparkir terlalu lama. Pihak pengelola, yakni PD Parkir Makassar Raya kemudian mencabut atributnya karena tindakan tersebut tidak sesuai aturan.
Rangkaian peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa kriminalitas di Kota Makassar terus meningkat belakangan ini?
Gejala Sosial atau Kriminal Murni?
Kriminolog Universitas Negeri Makassar, Profesor Heri Tahir menilai fenomena geng motor dan kekerasan jalanan di Makassar tidak bisa hanya dilihat sebagai tindak kriminal semata.
"Penanganannya tidak cukup hanya dari kepolisian. Ini juga menyangkut kondisi sosial masyarakat, misal pengangguran," ujarnya, Selasa, 5 Mei 2026.
Heri mengatakan dalam banyak kasus, kejahatan muncul sebagai respons terhadap tekanan ekonomi.
Ketika kebutuhan dasar sulit terpenuhi, sebagian orang mencari cara lain untuk bertahan hidup, termasuk melalui jalur yang melanggar hukum.
"Ini faktor tuntutan perut, faktor ekonomi. Hemat saya, tuntutan hidup sering menjadi pemicu ditambah jika kontrol sosial lemah," ucapnya.
Ruang Alternatif Karena Minimnya Peluang Kerja
Baca Juga: Kenapa Makassar Masuk 10 Besar Kota Toleran?
Sosiolog Universitas Negeri Makassar, Idham Irwansyah melihat fenomena geng motor hingga praktik premanisme jalanan tidak bisa dilepaskan dari tekanan sosial-ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat perkotaan.
Ia menilai meningkatnya pengangguran dan ketidakpastian kerja telah menciptakan ruang rentan, terutama bagi kelompok muda yang belum memiliki akses stabil ke pekerjaan formal.
Kata Idham, dalam situasi seperti itu, sebagian anak muda menghadapi kondisi terjepit. Di satu sisi memiliki kebutuhan ekonomi, tetapi di sisi lain tidak memiliki cukup peluang untuk memenuhinya secara legal dan berkelanjutan.
Ketika jalur formal terasa tertutup atau sulit dijangkau, maka muncul kecenderungan mencari alternatif lain, termasuk melalui kelompok-kelompok informal seperti geng motor.
"Kelompok ini kemudian berfungsi bukan hanya sebagai wadah berkumpul, tetapi juga menjadi ruang alternatif untuk bertahan hidup," ujar Idham.
Ia menambahkan, kehadiran kelompok seperti geng motor kerap memberikan semacam “legitimasi sosial” di antara anggotanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Beragam Promo KPR, KKB, hingga Travel Fair
-
Siap Kerja! Kolaborasi Hino dan SMKN 5 Makassar Perkuat Kompetensi Siswa
-
Warga Makassar, Saatnya Wujudkan Impian Punya Rumah dan Kendaraan Lewat BRI Consumer Expo 2026
-
Ayah Asyik Nonton Piala Dunia, Anak Tewas Terjebak Kebakaran
-
Mantan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Lawan Kejati: Kenapa Saya, Bukan Kepala Dinas?