Muhammad Yunus
Senin, 04 Mei 2026 | 14:10 WIB
Rehan (17), siswa SMAN 8 Pinrang berhasil mencatatkan namanya di Hall of Fame NASA (National Aeronautics and Space Administration) [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Siswa SMAN 8 Pinrang bernama Rehan berhasil masuk Hall of Fame NASA setelah menemukan celah keamanan siber pada April 2026.
  • Prestasi tersebut diraih melalui partisipasi dalam Vulnerability Disclosure Program NASA yang dilakukan Rehan secara otodidak menggunakan perangkat komputer sederhana.
  • Bupati Pinrang memberikan penghargaan kepada Rehan saat upacara Hari Pendidikan Nasional pada 4 Mei 2026 sebagai bentuk apresiasi prestasi.

"Siapa yang tidak tahu NASA, sistemnya pasti sangat kuat," katanya.

Namun, ia berpegang pada satu prinsip. Tidak ada sistem yang benar-benar aman. Keyakinan itu yang akhirnya membawanya menemukan celah tersebut.

"Saya tahu tidak ada sistem digital yang benar-benar sempurna," katanya.

Sebelum NASA, Rehan sebenarnya sudah lebih dulu mencatatkan prestasi. Ia pernah mendapat pengakuan dari Dresden University di Oslo, Norwegia, serta San Diego State University di Amerika Serikat.

Di dalam negeri, ia juga menerima penghargaan dari Komdigi setelah menemukan kerentanan pada domain milik pemerintah.

Namun di sekolah, Rehan nyaris tak terlihat menonjol.

Kepala sekolahnya, Handia Asyik mengaku sempat menganggap Rehan sebagai siswa biasa.

"Awalnya kami pikir dia biasa saja, tidak terlalu menonjol secara akademik," ujarnya.

Namun pandangan itu berubah setelah prestasi Rehan viral.

Baca Juga: Wali Kota Makassar Ancam Copot Kepala Sekolah yang Gelar Perpisahan Siswa Berbayar

"Ternyata dia punya potensi besar di bidang digital. Kami malah merasa terlambat mengetahui itu," katanya.

Bagi sekolah yang berada sekitar 250 kilometer dari Makassar, capaian Rehan menjadi kebanggaan tersendiri.

"Meskipun kami di kampung, kami bisa menunjukkan prestasi," tambah Handia.

Di balik semua pencapaian itu, ada cerita tentang perjuangan.

Rehan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ibunya ibu rumah tangga.

Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya berhenti bermimpi.
Ia justru menjadikan kondisi itu sebagai dorongan untuk terus belajar.

Load More