- Basri Kinas Mappaseng memaparkan strategi Blue Food di Universitas Hasanuddin untuk mencapai swasembada pangan Indonesia pada tahun 2029.
- PT Agrinas Jaladri Nusantara akan memodernisasi armada dan infrastruktur rantai dingin guna mengatasi masalah distribusi hasil laut nasional.
- Sinergi lintas sektor ditargetkan mendukung program makan bergizi gratis bagi 82,9 juta penerima manfaat di seluruh wilayah Indonesia.
SuaraSulsel.id - Indonesia mulai mengarahkan kembali strategi ekonominya ke laut. Dalam kuliah tamu di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin, Basri Kinas Mappaseng menegaskan bahwa kedaulatan pangan nasional kini bertumpu pada transformasi konsep Blue Food.
Sebagai Komisaris Independen PT Agrinas Jaladri Nusantara (AJN), Basri memaparkan langkah strategis untuk mengonversi potensi maritim Indonesia yang diperkirakan mencapai USD 82 miliar menjadi kekuatan nyata menuju swasembada pangan pada 2029.
Menurutnya, Blue Food bukan sekadar komoditas hasil laut, melainkan seluruh sumber pangan dari ekosistem akuatik—mulai dari ikan, udang, kerang, hingga rumput laut—yang memiliki nilai strategis dalam menjawab tantangan pangan global.
“Laut adalah warisan kita, namun swasembada adalah tanggung jawab strategis yang harus kita rebut kembali,” tegas Basri, Sabtu (2/5).
Ia menilai, keunggulan utama protein laut terletak pada efisiensi karbon yang lebih rendah dibandingkan daging merah, serta kandungan nutrisi tinggi seperti omega-3 dan vitamin D.
Faktor ini menjadikan sektor perikanan sebagai pilar penting dalam ekonomi hijau sekaligus upaya menekan stunting.
Empat Pilar Blue Food
Basri menjelaskan, implementasi Blue Food dibangun di atas empat pilar utama. Pertama, aspek nutrisi untuk memastikan distribusi protein berkualitas bagi masyarakat.
Kedua, keberlanjutan dengan menekan jejak karbon produksi pangan. Ketiga, kedaulatan melalui optimalisasi potensi 17.504 pulau di Indonesia. Keempat, aspek ekonomi yang menciptakan efek berganda dari hulu ke hilir.
Baca Juga: Guru Besar UMI Ungkap Cara Mengatasi Serbuan Ikan Sapu-Sapu
Namun, di balik potensi besar tersebut, Indonesia masih menghadapi persoalan klasik di sektor perikanan.
Dengan luas laut mencapai 5,8 juta km², distribusi hasil laut masih belum merata. Sebanyak 95 persen armada tangkap didominasi kapal kecil di bawah 10 GT, yang berdampak pada tingginya kehilangan pasca-panen hingga 20–30 persen.
Basri menekankan, persoalan utama bukan pada produksi, melainkan lemahnya infrastruktur rantai dingin (cold chain).
Menurutnya, penguatan teknologi penyimpanan dan distribusi dingin menjadi solusi cepat untuk meningkatkan suplai tanpa eksploitasi berlebihan.
Peran AJN dalam Ekosistem Nasional
Transformasi PT Virama Karya menjadi AJN pada 2025 disebut sebagai langkah penting dalam pembenahan tata kelola sektor maritim. AJN kini berada dalam ekosistem Danantara Indonesia dan diposisikan sebagai BUMN klaster perikanan tunggal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Siap Kerja! Kolaborasi Hino dan SMKN 5 Makassar Perkuat Kompetensi Siswa
-
Warga Makassar, Saatnya Wujudkan Impian Punya Rumah dan Kendaraan Lewat BRI Consumer Expo 2026
-
Ayah Asyik Nonton Piala Dunia, Anak Tewas Terjebak Kebakaran
-
Mantan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Lawan Kejati: Kenapa Saya, Bukan Kepala Dinas?
-
Jeratan Rentenir di Tengah Krisis Iklim: Nasib Perempuan, Lansia, dan Disabilitas