- Ikan sapu-sapu yang awalnya ikan hias kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan tawar di Indonesia.
- Populasi ikan sapu-sapu yang invasif mendominasi perairan alami dan merugikan nelayan akibat hilangnya hasil tangkapan ikan asli.
- Universitas Muslim Indonesia menyarankan pengolahan ikan sapu-sapu menjadi pakan ternak bernilai ekonomi guna mengurangi populasi di perairan.
SuaraSulsel.id - Ikan sapu-sapu yang dulu dikenal sebagai ikan hias pembersih akuarium, kini justru menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan tawar di Indonesia.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Prof Andi Tamsil mengungkapkan, masalah ikan sapu-sapu sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan sejak 1994 di wilayah Bogor, Jawa Barat.
Menurutnya, awal masuknya ikan ini ke Indonesia bukan sebagai hama, melainkan sebagai ikan hias yang berfungsi membersihkan dasar dan dinding akuarium atau kolam.
“Ketika masih kecil, ikan ini memang menarik dipelihara di akuarium. Tapi saat ukurannya sudah besar, banyak warga yang akhirnya melepasnya ke sungai atau danau,” kata Tamsil kepada Suara.com, Senin 20 April 2026.
Padahal, ikan sapu-sapu termasuk spesies asing yang tidak boleh dilepasliarkan sembarangan ke perairan alami.
Ikan ini dikenal memiliki daya tahan tinggi dan mampu berkembang biak dengan sangat cepat.
Selain itu, ikan sapu-sapu juga lebih toleran terhadap kondisi air yang ekstrem dibandingkan ikan lokal.
Akibatnya, ikan ini dengan mudah menguasai habitat perairan dan secara perlahan menggeser keberadaan ikan-ikan asli.
Tamsil mencontohkan fenomena yang terjadi di Danau Tempe pada tahun 2004.
Baca Juga: Peneliti Ungkap Alasan Ilmiah Ikan Hiu 'Nongkrong' di Pesisir Makassar
Saat itu, nelayan yang menangkap ikan menggunakan jaring justru mengeluh karena hampir seluruh hasil tangkapan mereka didominasi ikan sapu-sapu.
“Sekitar 90 persen yang tertangkap adalah ikan sapu-sapu. Nelayan sampai menangis karena rugi. Jaring rusak, sementara ikan asli hampir tidak ada,” ungkapnya.
Para nelayan pun sempat bertanya bagaimana cara membasmi ikan tersebut. Namun Tamsil menegaskan, dalam pengelolaan perikanan sebenarnya tidak ada istilah “membasmi”.
“Tidak ada istilah basmi,” tegas kata Tamsil yang juga Ketua Shrimp Club Indonesia.
Menurut dia, solusi yang lebih realistis adalah mengubah ikan sapu-sapu menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Jika ikan ini memiliki harga, maka nelayan dengan sendirinya akan menangkapnya secara masif.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
Pilihan
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
-
Perang Terbuka! AS Klaim Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
Terkini
-
Siapa HR dan FU? Dua Pelaku Penikaman Nus Kei, Dendam Lama 2020 Diduga Jadi Pemicu
-
Usai Penikaman Nus Kei, Mengapa Nama John Kei Ikut Ramai Dibicarakan?
-
Profil Nus Kei: Ketua Golkar Maluku Tenggara yang Tewas Diserang di Bandara, Ini Sosoknya
-
Fakta Baru Penikaman Nus Kei: Pelaku Sudah Menunggu di Bandara, Diduga Karena Dendam Lama
-
Diserang di Bandara hingga Tewas, Ini Kronologi Lengkap Penikaman Nus Kei dalam 2 Jam