- Suciati, seorang penjual jalangkote asal Wajo, berhasil mewujudkan mimpinya menunaikan ibadah haji setelah menabung selama 16 tahun.
- Ia diberangkatkan ke Tanah Suci pada tahun ini sebagai bagian dari kelompok terbang 10 Embarkasi Makassar.
- Kabupaten Wajo mencatat jumlah calon jemaah haji tertinggi di Sulawesi Selatan sebanyak 1.941 orang pada tahun ini.
SuaraSulsel.id - Di ruang Aula Mina, di Asrama Haji Makassar, Suciati duduk tenang di antara ribuan calon jemaah lainnya.
Wajahnya tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang memenuhi dadanya.
Ia memang tak pandai merangkai kata dalam bahasa Indonesia yang fasih. Namun, sorot matanya sudah cukup bercerita.
Selama kurang lebih 16 tahun, Suciati menabung dari hasil jualan jalangkote. Penghasilannya tak pernah pasti.
Ada hari-hari di mana dagangannya laris diserbu pembeli, tapi tak sedikit pula hari sepi yang membuatnya harus lebih sabar menahan keinginan.
"Kalau ada lebih, saya sisihkan sedikit demi sedikit. Kalau untungnya kecil, tetap ditabung, tidak dibelanjakan. Kadang juga banyak kalau ada yang pesan," ujarnya dengan suara bergetar.
Wajahnya menggambarkan rasa haru, syukur, dan penantian panjang yang akhirnya terjawab.
Dari uang receh yang dikumpulkan dengan penuh kesabaran itu, ia akhirnya mendaftar haji pada tahun 2010. Sebuah langkah besar yang saat itu mungkin terasa jauh dari kenyataan.
Tahun ini, penantian panjang itu akhirnya terbayar. Suciati menjadi salah satu calon jemaah haji yang diberangkatkan bersama kloter 10 Embarkasi Makassar.
Baca Juga: Kisah Penjual Ikan Keliling Naik Haji Setelah Menabung Puluhan Tahun
Matanya berkaca-kaca seolah semua kenangan tentang perjuangan panjangnya berkelebat dalam satu waktu.
"Saya gembira sekali… saya haru," ucapnya singkat.
Usia yang tak lagi muda tak menjadi penghalang bagi Suciati untuk menjalani setiap rangkaian ibadah haji. Semangatnya justru terasa semakin kuat, seolah perjalanan panjang hidupnya telah menyiapkan dirinya untuk momen ini.
Kisah Suciati adalah potret ketekunan yang sunyi, tentang bagaimana mimpi besar tak selalu lahir dari kehidupan yang lapang.
Ia tumbuh dari kesabaran, dari pengorbanan kecil yang dilakukan berulang-ulang tanpa lelah.
Di tengah ribuan calon jemaah lainnya, langkahnya mungkin tampak biasa. Namun di balik itu, tersimpan cerita luar biasa tentang perjuangan seorang perempuan yang tak pernah berhenti percaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
- 11 HP Murah untuk Ojol, Baterai Awet dan Layar Terang agar Tetap Nyaman di Jalan
- Persija dan PSM Masuk Daftar 24 Klub Penunggak Gaji Pemain Versi Data Terbaru APPI
- 7 Sepatu Slip On Lokal yang Empuk dan Anti Pegal untuk Kerja Komuter, Mulai Rp100 Ribuan
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Helikopter BNPB Jatuh Saat Ambil Air di Sungai Barito
-
PLN Genjot Pembangunan Pembangkit Listrik Mesin Gas di Baubau
-
Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang
-
Pangdam Hasanuddin Gandeng Ormas dan Ojol Berantas Mafia TNI
-
Jenderal yang Menanggalkan Gelar Andi, Kini Bergelar Pahlawan Nasional