- Enam wilayah di Kota Makassar diantisipasi mengalami kekeringan ekstrem dan krisis air bersih pada puncak musim kemarau 2026.
- Pemerintah Kota Makassar menyiapkan langkah mitigasi melalui koordinasi lintas sektor, sistem shelter, serta distribusi air bersih bagi warga.
- BPBD mendorong penetapan status tanggap darurat guna mempercepat bantuan dan meminimalkan dampak kekeringan serta risiko kebakaran yang meningkat.
SuaraSulsel.id - Enam wilayah di Kota Makassar mulai dibayangi ancaman kekeringan panjang pada 2026.
Pemerintah daerah pun bersiaga menghadapi potensi krisis air bersih hingga meningkatnya risiko kebakaran yang diperkirakan terjadi seiring puncak musim kemarau.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, musim kemarau diprediksi mulai menguat pada Mei dan mencapai puncaknya pada Oktober mendatang.
Kondisi ini bahkan berpotensi lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Adapun enam wilayah yang diidentifikasi rawan terdampak kekeringan yakni Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, Ujung Tanah, Tallo, dan Panakkukang.
Di sejumlah titik seperti Kelurahan Buloa, krisis air bersih bahkan dilaporkan sudah terjadi meski belum memasuki puncak musim kemarau.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Muhammad Fadli Tahar mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah antisipatif melalui master plan penanggulangan kekeringan yang melibatkan lintas sektor.
BPBD mengidentifikasi tiga dampak utama yang perlu diwaspadai selama musim kemarau panjang, yakni krisis air bersih, kebakaran, dan gangguan kesehatan masyarakat.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah menyiapkan sistem shelter berbasis sektor, termasuk layanan kesehatan yang akan dikoordinasikan oleh dinas terkait.
Baca Juga: Besok Warga di Makassar Akan Turun ke Jalan Bela Jusuf Kalla, Ini Titik Aksinya
Selain itu, BPBD juga mendorong penetapan status tanggap darurat oleh pemerintah kota.
Kata Fadli, penetapan status tersebut bukan menunjukkan kelemahan daerah, melainkan langkah strategis untuk membuka akses bantuan dari pemerintah pusat hingga lembaga kemanusiaan.
"Semakin cepat kita menetapkan status dan bertindak, semakin cepat pula pemulihan bisa dilakukan. Jika terlambat, dampaknya bisa berkepanjangan," ujarnya, Kamis, 16 April 2026.
Sebagai respons awal, distribusi air bersih melalui mobil tangki serta pemanfaatan teknologi pengolahan air telah mulai dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Fadli juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Ia menyebut sebagian besar penanganan awal dalam situasi darurat justru bergantung pada kesiapsiagaan warga.
Sejalan dengan itu, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan turut meningkatkan status siaga menghadapi musim kemarau.
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Comeback! Darije Kalezic Selangkah Lagi Kembali Menukangi PSM Makassar
-
Rp30 Miliar untuk BPJS Warga Kurang Mampu di Sulawesi Tenggara
-
Pengemudi Innova Nekat Terobos Jalan Baru Dicor Jadi Buronan Petugas Pajak
-
Pengendara Pajero Nekat Terobos Proyek Jalan Aroepala, Ngaku Aparat Saat Ditegur Petugas
-
Kembalikan Puluhan Ribu Anak ke Sekolah, Inovasi Andi Sudirman Jadi 'Blueprint' Nasional