Muhammad Yunus
Rabu, 22 Juli 2026 | 07:06 WIB
Diskusi Program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Sulawesi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor rumput laut di Unhas, Selasa 21 Juli 2026 [SuaraSulsel.id/Muhammad Yunus]
Baca 10 detik
  • Mikroplastik mulai menjadi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan industri rumput laut Indonesia
  • Mikroplastik juga ditemukan pada sampel rumput laut, kerang yang menempel pada tali budidaya, hingga ikan yang hidup di sekitar kawasan budidaya
  • Keuntungan terbesar justru dinikmati sektor hilir yang mengolah produk menjadi barang bernilai tinggi

SuaraSulsel.id - Ancaman mikroplastik tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi mulai menjadi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan industri rumput laut Indonesia.

Mulai dari petani, peneliti, akademisi hingga pemerintah sepakat bahwa pencemaran laut dapat menggerus kualitas rumput laut, mengancam pasar ekspor, hingga menurunkan kesejahteraan jutaan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.

Kekhawatiran itu mengemuka dalam diskusi Program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Sulawesi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor rumput laut di Unhas, Selasa 21 Juli 2026.

Mereka menilai persoalan mikroplastik harus ditangani dari hulu hingga hilir, bersamaan dengan upaya meningkatkan nilai tambah produk rumput laut.

Program PAIR Sulawesi merupakan program penelitian pertama di Sulawesi yang didanai bersama oleh kedua negara dengan skema pendanaan 50:50.

Dengan total anggaran Rp120 Miliar. Akan dialokasikan selama 4 tahun. Program penelitian ini harus bermanfaat ke masyarakat.

Potret Rumput Laut spinosum (Eucheuma denticulatum) sebagai bahan dasar dalam pembuatan bioplastik (Dok.pribadi/KONEKSI)

Laut Kini Dipenuhi Sampah Plastik

Perwakilan Komunitas Petani Rumput Laut, Arman Arfah, mengenang kondisi pesisir sekitar dua dekade lalu.

Menurutnya, masyarakat pesisir memandang laut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar ruang mencari nafkah.

Baca Juga: IKA Perikanan Unhas: Nelayan Harus Dilibatkan Sistematis dalam Penyelamatan Laut

"Dua puluh tahun lalu, masyarakat pesisir tidak hanya melihat laut sebagai hamparan ombak, tetapi sebagai halaman depan rumah. Laut menjadi sekolah pertama bagi nelayan belajar kesabaran, keberanian, dan keikhlasan. Laut juga menjadi sumber kehidupan. Ketika air surut, rumput laut terbentang di mana-mana," ujarnya.

Namun kondisi itu kini berubah drastis. Perjalanan nelayan menuju lokasi budidaya sering kali harus melewati sungai yang dipenuhi sampah plastik hingga mengganggu mesin perahu.

Sesampainya di laut, hamparan rumput laut justru berdampingan dengan tumpukan sampah plastik.

"Mungkinkah kita menghasilkan ikan dan rumput laut yang sehat jika lautnya sakit karena tercemar?" kata Arman yang saat ini menjabat Ketua Asosiasi Petani dan Pengelolaan Rumput Laut Indonesia.

Ia menilai rumput laut saat ini harus bertahan di tengah ekosistem laut yang semakin rentan terhadap pencemaran dan berbagai penyakit.

Menurutnya, budidaya rumput laut berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila kualitas lingkungan laut tetap terjaga.

Load More