- Mikroplastik mulai menjadi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan industri rumput laut Indonesia
- Mikroplastik juga ditemukan pada sampel rumput laut, kerang yang menempel pada tali budidaya, hingga ikan yang hidup di sekitar kawasan budidaya
- Keuntungan terbesar justru dinikmati sektor hilir yang mengolah produk menjadi barang bernilai tinggi
SuaraSulsel.id - Ancaman mikroplastik tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi mulai menjadi persoalan serius yang mengancam keberlanjutan industri rumput laut Indonesia.
Mulai dari petani, peneliti, akademisi hingga pemerintah sepakat bahwa pencemaran laut dapat menggerus kualitas rumput laut, mengancam pasar ekspor, hingga menurunkan kesejahteraan jutaan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.
Kekhawatiran itu mengemuka dalam diskusi Program Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Sulawesi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor rumput laut di Unhas, Selasa 21 Juli 2026.
Mereka menilai persoalan mikroplastik harus ditangani dari hulu hingga hilir, bersamaan dengan upaya meningkatkan nilai tambah produk rumput laut.
Program PAIR Sulawesi merupakan program penelitian pertama di Sulawesi yang didanai bersama oleh kedua negara dengan skema pendanaan 50:50.
Dengan total anggaran Rp120 Miliar. Akan dialokasikan selama 4 tahun. Program penelitian ini harus bermanfaat ke masyarakat.
Laut Kini Dipenuhi Sampah Plastik
Perwakilan Komunitas Petani Rumput Laut, Arman Arfah, mengenang kondisi pesisir sekitar dua dekade lalu.
Menurutnya, masyarakat pesisir memandang laut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar ruang mencari nafkah.
Baca Juga: IKA Perikanan Unhas: Nelayan Harus Dilibatkan Sistematis dalam Penyelamatan Laut
"Dua puluh tahun lalu, masyarakat pesisir tidak hanya melihat laut sebagai hamparan ombak, tetapi sebagai halaman depan rumah. Laut menjadi sekolah pertama bagi nelayan belajar kesabaran, keberanian, dan keikhlasan. Laut juga menjadi sumber kehidupan. Ketika air surut, rumput laut terbentang di mana-mana," ujarnya.
Namun kondisi itu kini berubah drastis. Perjalanan nelayan menuju lokasi budidaya sering kali harus melewati sungai yang dipenuhi sampah plastik hingga mengganggu mesin perahu.
Sesampainya di laut, hamparan rumput laut justru berdampingan dengan tumpukan sampah plastik.
"Mungkinkah kita menghasilkan ikan dan rumput laut yang sehat jika lautnya sakit karena tercemar?" kata Arman yang saat ini menjabat Ketua Asosiasi Petani dan Pengelolaan Rumput Laut Indonesia.
Ia menilai rumput laut saat ini harus bertahan di tengah ekosistem laut yang semakin rentan terhadap pencemaran dan berbagai penyakit.
Menurutnya, budidaya rumput laut berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila kualitas lingkungan laut tetap terjaga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menghilangkan Iklan yang Tiba-Tiba Muncul di Layar HP Android Tanpa Aplikasi Tambahan
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- 4 Moisturizer Skintific untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun, Wajah Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Alasan Cari Makan, Tiga Terduga Pelaku Penyelundupan Batu Hitam Kabur dari Kantor Polisi
-
Korban Koma 10 Hari, Misteri Tabrak Lari di Gowa Akhirnya Terkuak Berkat Jejak Ini
-
Dosen UIN Alauddin Makassar Jadi Dosen Tamu di AS, Bahas Dialog Antaragama
-
Prabowo Bakal Bangun Pacuan Kuda Berstandar Internasional di Sulawesi
-
Ini Strategi Awal Appi Sebagai Ketua Partai Demokrat Sulawesi Selatan