- Shalat Idulfitri merupakan ibadah sunnah muakkadah yang dilaksanakan dua rakaat, diawali takbir tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua.
- Waktu pelaksanaan shalat Idulfitri dimulai sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit hingga waktu Dzuhur tiba.
- Setelah salat selesai, umat dianjurkan mengikuti dua sesi khutbah yang diawali dengan takbir dan berisi nasihat ketakwaan.
SuaraSulsel.id - Usai sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan, umat Islam menyambut hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idulfitri.
Pada tanggal 1 Syawal, kaum muslimin sangat dianjurkan untuk melaksanakan shalat ‘Id secara berjamaah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Salat ini termasuk ibadah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan.
Syekh Abu Syuja’ al-Asfihani (wafat 593 H) dalam kitabnya menjelaskan tata cara dasar pelaksanaan shalat ‘Id sebagai berikut:
وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَهِيَ رَكْعَتَانِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ، وَيَخْطُبُ بَعْدَهَا خُطْبَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى تِسْعًا، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعًا
“Shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Shalat ini terdiri dari dua rakaat. Pada rakaat pertama, dilakukan tujuh kali takbir selain takbiratul ihram, dan pada rakaat kedua dilakukan lima kali takbir selain takbir bangkit berdiri. Setelah itu, disampaikan dua khutbah. Pada khutbah pertama dibuka dengan sembilan kali takbir, dan pada khutbah kedua dengan tujuh kali takbir.” (Matan al-Ghayah wa at-Taqrib [Beirut: Alam al-Kutub], vol. 1, h. 12)
Adapun waktu pelaksanaan shalat ‘Id dimulai sejak matahari terbit setinggi satu tombak, yaitu sekitar 15–20 menit setelah terbitnya matahari (sekitar pukul 06.00–07.00 waktu setempat), hingga masuk waktu Dzuhur.
Di Indonesia, umumnya shalat ‘Id dilaksanakan antara pukul 06.15 hingga 06.30 WIB.
Pada dasarnya, tata cara shalat ‘Id mirip dengan shalat biasa namun memiliki kekhususan berupa tambahan takbir pada setiap awal rakaat.
Baca Juga: Imam dari Yaman Akan Pimpin Salat Id di Karebosi, Rektor UIN Makassar Sampaikan Khutbah
Agar pelaksanaannya lebih mudah dipahami, berikut urutan tata cara shalat Idul Fitri secara lengkap:
1. Niat
Salah satu rukun dalam shalat adalah niat. Oleh karena itu, ketika hendak melaksanakan shalat ‘Id, seseorang perlu menghadirkan niat di dalam hati.
Adapun melafazkannya dengan lisan hanya bertujuan untuk membantu memantapkan niat tersebut.
Berikut ini lafaz niat shalat ‘Id pada Hari Raya Idul Fitri, baik sebagai imam maupun makmum:
Niat sebagai imam:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li’idil fiṭri rak’ataini imāman lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku berniat melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat seraya menjadi imam karena Allah Ta’ala.”
Niat sebagai makmum:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatan li’idil fiṭri rak’ataini ma’mūman lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku berniat melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat seraya menjadi makmum karena Allah Ta’ala.”
2. Takbiratul Ihram
Takbiratul ihram dilakukan dengan mengucapkan kalimat “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan. Pada saat yang sama, niat dihadirkan dalam hati sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Jadi, langkah pertama (niat) dan kedua (takbiratul ihram sambil mengangkat kedua tangan) dilaksanakan secara bersamaan.
3. Membaca Doa Iftitah
Setelah melaksanakan takbiratul ihram, tahap selanjutnya adalah membaca doa iftitah sebagaimana dalam shalat biasa, yang mana hukumnya adalah sunnah.
Berikut lafaz doa Iftitah:
إِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Inni wajjahtu wajhiya lilladzī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan musliman wa mā anā minal-musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn. Lā syarīka lah, wa bidhālika umirtu wa anā minal-muslimīn.
Artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim.”
4. Takbir Tujuh Kali pada Rakaat Pertama
Usai takbiratul ihram dan membaca doa iftitah, langkah berikutnya adalah mengucapkan takbir sebanyak tujuh kali sambil mengangkat tangan.
Setiap selesai satu takbir, dianjurkan membaca dzikir. Mayoritas ulama mengatakan bahwa lafaz dzikir yang dibaca adalah sebagaimana berikut:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.
Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.”
Selain doa tersebut, Imam as-Shaidilani menukil dari sebagian ulama bahwa doa yang dibaca adalah berikut:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu biyadihil khair wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Sementara itu, Imam Ibn ash-Shabbagh menyatakan bahwa apabila seseorang membaca bacaan yang lazim diamalkan oleh masyarakat, maka hal tersebut juga baik. Adapun bacaan yang dimaksud adalah:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَثِيرًا
Allāhu akbar kabīrā, walḥamdu lillāhi katsīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā, wa shallallāhu ‘alā Muḥammad wa ālihi wa sallama katsīrā.
Artinya: “Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah, Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam yang banyak kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.”
Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa berbagai bacaan doa setiap selesai takbir tersebut diperbolehkan dan semuanya baik untuk diamalkan:
قَالَ الْأَكْثَرُونَ: يَقُولُ: (سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ) وَلَوْ زَادَ، جَازَ. قَالَ الصَّيْدَلَانِيُّ عَنْ بَعْضِ الْأَصْحَابِ: يَقُولُ: (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) . وَقَالَ ابْنُ الصَّبَّاغِ: لَوْ قَالَ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ: (اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَثِيرًا) كَانَ حَسَنًا
“Mayoritas ulama mengatakan bahwa bacaan yang dibaca adalah: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar. Dan jika ditambah, maka hal itu diperbolehkan. as-Shaidilani menukil dari sebagian ulama bahwa dibaca: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu biyadihil khair wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Ibn ash-Shabbagh berkata: jika seseorang membaca sebagaimana yang biasa dibaca oleh Masyarakat yakni: Allāhu akbar kabīrā, walḥamdu lillāhi katsīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā, wa shallallāhu ‘alā Muḥammad wa ālihi wa sallama katsīrā, maka hal itu baik.” (Raudhah at-Thalibin wa Umdah al-Muftiyin [Beirut: al-Maktab al-Islami], vol. 2, h. 71)
5. Membaca Surat Al-Fatihah
Membaca surat Al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat. Sehingga, dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri, surat Al-Fatihah wajib dibaca.
6. Membaca Surat Pendek
Setelah membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat-surat pendek. Menurut Imam as-Shan’ani (wafat 1182 H), berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim, surat yang dianjurkan dibaca pada rakaat pertama adalah surat Al-A’la, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ghasyiah.
Menurut beliau, kedua surat tersebut memuat peringatan tentang kehidupan akhirat, janji, dan ancaman, sehingga sesuai dibaca pada shalat yang dihadiri banyak orang. Namun, terdapat pula riwayat lain yang menyebutkan anjuran membaca surat Qaf pada rakaat pertama dan Al-Qamar pada rakaat kedua:
وَلَهُ أَيْ لِمُسْلِمٍ (عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَقْرَأُ) أَيْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (فِي الْعِيدَيْنِ) الْفِطْرِ، وَالْأَضْحَى أَيْ فِي صَلَاتِهِمَا (وَفِي الْجُمُعَةِ) أَيْ فِي صَلَاتِهَا بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّك الْأَعْلَى أَيْ: فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى بَعْدَ الْفَاتِحَةِ (وَهَلْ أَتَاك حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) أَيْ فِي الثَّانِيَةِ بَعْدَهَا... وَفِي سُورَةِ سَبِّحْ، وَالْغَاشِيَةِ مِنْ التَّذْكِيرِ بِأَحْوَالِ الْآخِرَةِ، وَالْوَعْدِ، وَالْوَعِيدِ مَا يُنَاسِبُ قِرَاءَتَهُمَا فِي تِلْكَ الصَّلَاةِ الْجَامِعَةِ، وَقَدْ وَرَدَ فِي الْعِيدَيْنِ أَنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ بِقَافٍ وَاقْتَرَبَتْ
“Dan dalam riwayat Muslim, dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) yakni dalam shalat keduanya, dan juga pada shalat Jumat: Sabbihisma rabbikal a’lā, yaitu pada rakaat pertama setelah bacaan al-Fatihah, dan Hal atāka ḥadītsul ghāsyiyah, yaitu pada rakaat kedua setelahnya. Dalam kedua surah tersebut terdapat peringatan tentang keadaan akhirat, janji dan ancaman, yang sesuai dibaca pada shalat yang mengumpulkan banyak orang seperti itu. Dan juga diriwayatkan bahwa pada shalat dua hari raya, Nabi SAW pernah membaca surah Qaf dan Iqtarabat (as-Sā’ah).” (Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram [Kairo: Dar al-Hadis], vol. 2, h. 407)
7. Rukuk dan Sujud
Setelah membaca surat tersebut, shalat dilanjutkan seperti biasa, yaitu dengan rukuk, i’tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua.
8. Takbir Lima Kali pada Rakaat Kedua
Usai sujud kedua, kemudian berdiri dan mengucapkan takbir sebanyak lima kali. Di sela-sela setiap takbir, dianjurkan membaca doa sebagaimana dijelaskan pada langkah keempat.
9. Menyempurnakan Salat
Sesudah takbir lima kali pada rakaat kedua, selanjutnya shalat dilanjutkan seperti biasa, mulai dari membaca surat Al-Fatihah hingga diakhiri dengan salam.
10. Mendengarkan Khutbah
Selepas menyelesaikan rangkaian shalat tersebut, jamaah dianjurkan untuk tidak langsung pulang, melainkan tetap duduk dan menyimak dengan khidmat khutbah Idul Fitri.
Khutbah ini biasanya terdiri dari dua bagian dan berisi nasihat serta wasiat ketakwaan.
Demikianlah panduan lengkap yang bisa dijadikan rujukan dalam melaksanakan shalat ‘Id.
Sumber: MUI.OR.ID
Berita Terkait
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
Terkini
-
Era Digital, Nasabah Bisa Kirim THR dengan QRIS Transfer dan Transfer Emas di BRImo
-
BRI: Nasabah Dapat Manfaatkan Virtual Assistant BRI Sabrina Sepanjang Libur Lebaran
-
Ini Rute Favorit Pemudik dari Bandara Makassar Jelang Lebaran 2026
-
Pemprov Sulsel Gelar Salat Idulfitri di Masjid Kubah 99
-
Wajib Tahu! Panduan Lengkap Salat Idulfitri