Muhammad Yunus
Kamis, 19 Maret 2026 | 12:32 WIB
Ratusan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah lebih awal pada Kamis, 19 Maret 2026 [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Ratusan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Makassar melaksanakan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H lebih awal pada Kamis, 19 Maret 2026.
  • Ibadah tersebut dihadiri sekitar 100 jemaah di Jalan Perintis Kemerdekaan dan berakhir aman sekitar pukul 08.05 Wita.
  • Penentuan Idulfitri lebih cepat disebabkan oleh metode hisab qomariyah yang disepakati para mursyid tarekat.

SuaraSulsel.id - Ratusan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah lebih awal pada Kamis, 19 Maret 2026.

Ibadah tersebut digelar di depan ruko di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, sejak pukul 06.00 wita.

Sejak fajar, jemaah mulai berdatangan untuk mengikuti rangkaian ibadah dengan khidmat.

Suasana berlangsung tenang dan sederhana, mencerminkan kekhusyukan para jemaah dalam menyambut hari kemenangan.

Sebelum salat dimulai, jemaah melantunkan takbir secara perlahan.

Lantunan tersebut menggema pelan, menciptakan nuansa religius yang mendalam di tengah lingkungan sekitar.

Tepat pukul 06.30 Wita, salat Idulfitri dilaksanakan secara berjemaah.

Berdasarkan pantauan aparat setempat, jumlah jemaah yang hadir mencapai sekitar 100 orang.

"Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah diikuti kurang lebih 100 orang," ujar Kapolsek Tamalanrea, Kompol Muhammad Yusuf.

Baca Juga: 6 Tahun Mandek, Hakim Perintahkan Polisi Segera Usut Tuntas Kasus Kekerasan Jurnalis Makassar

Dalam pelaksanaannya, Mursalin Abu Rifki bertindak sebagai khatib, sementara imam dipimpin oleh Ustaz Amal Ma’ruf.

Jemaah yang hadir tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga dari beberapa daerah di luar Makassar.

Meski pelaksanaan Idulfitri dilakukan lebih awal dibandingkan ketetapan pemerintah maupun organisasi Islam pada umumnya, suasana tetap berlangsung damai.

Masyarakat sekitar menunjukkan sikap saling menghormati terhadap perbedaan tersebut.

Sekitar pukul 08.05 Wita, rangkaian ibadah selesai dalam keadaan aman dan tertib. Para jemaah kemudian saling bersalaman dan bermaafan sebelum membubarkan diri secara teratur.

* Tarekat Naqsabandiyah dan Ajaran Spiritualnya

Tarekat Naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat dalam tradisi tasawuf Islam yang memiliki pengaruh luas di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.

Nama tarekat ini diambil dari tokoh yang dianggap sebagai pendiri atau pengembang utamanya, yakni Bahauddin al-Bukhari an-Naqsyabandi.

Sebagaimana tarekat tasawuf lainnya, Naqsabandiyah menekankan praktik zikir sebagai sarana utama mendekatkan diri kepada Tuhan.

Para pengikutnya meyakini bahwa zikir yang dilakukan secara konsisten dapat membawa seseorang mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.

Dalam praktiknya, setiap murid memiliki seorang pembimbing spiritual yang disebut mursyid.

Peran mursyid sangat penting dalam membimbing perjalanan rohani, termasuk membantu murid memahami ajaran tasawuf secara lebih mendalam.

Tarekat ini juga menekankan pentingnya ketaatan terhadap syariat Islam dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan spiritual yang seimbang antara aspek duniawi dan ukhrawi.

Selain itu, Naqsabandiyah dikenal dengan pendekatan tasawuf yang praktis. Para pengikutnya diajarkan untuk tetap aktif dalam kehidupan sosial, bekerja, serta menjalankan kewajiban sehari-hari sebagai bagian dari ibadah.

Secara historis, tarekat ini memiliki akar panjang yang dapat ditelusuri hingga abad ke-12.

Tokoh-tokoh awal seperti Yusuf Hamdani dan Abdul Khaliq Ghajdawani berperan penting dalam membentuk dasar ajaran tarekat, terutama dalam praktik zikir dan meditasi yang hening.

Pada abad ke-14, ajaran tersebut berkembang dan kemudian dikenal luas dengan nama Naqsabandiyah, merujuk pada Bahauddin al-Naqsyabandi.

Seiring waktu, tarekat ini berkembang menjadi berbagai cabang dengan karakteristik masing-masing, mengikuti para pemimpin spiritual yang berbeda.

* Mengapa Idulfitri Lebih Cepat?

Pelaksanaan Idulfitri lebih awal oleh jemaah Naqsabandiyah tidak terlepas dari metode penentuan kalender yang mereka gunakan.

Tarekat ini menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026.

Ketua Umum Dewan Mursyidin Tarekat Naqsabandiyah Pusat, Munawar Kholil, menjelaskan penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab qomariyah yang telah disepakati oleh para mursyid sejak 12 Desember 2025.

"1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sehingga malam sebelumnya sudah dilaksanakan salat Tarawih pertama," ujarnya.

Dengan perhitungan tersebut, jemaah menjalankan ibadah puasa selama 30 hari penuh. Oleh karena itu, Hari Raya Idulfitri ditetapkan jatuh pada 18 Maret 2026, atau lebih awal dibandingkan penetapan pemerintah dan mayoritas organisasi Islam di Indonesia.

Munawar menegaskan, perbedaan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan keyakinan yang telah lama dianut oleh jemaah Naqsabandiyah.

Meski demikian, mereka tetap menjunjung tinggi toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.

Perbedaan waktu dalam penetapan hari besar keagamaan seperti Idulfitri memang kerap terjadi di Indonesia yang memiliki keragaman metode penentuan kalender Islam.

Namun, praktik tersebut menjadi cerminan dinamika keberagaman yang tetap dapat berjalan harmonis di tengah masyarakat.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More