Suhardiman
Senin, 16 Februari 2026 | 15:18 WIB
Ilustrasi puasa ramadan. [Ist]
Baca 10 detik
  • Komunitas An Nadzir menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan pemantauan bulan.
  • Penentuan ini menggunakan metode gabungan dalil naqli dan aqli sesuai ajaran K.H. Syamsuri Abdul Madjid dikaji ulang.
  • Pimpinan An Nadzir menggarisbawahi pentingnya kedewasaan dan sikap saling menghormati atas perbedaan metode penetapan waktu tersebut.

Syaban tahun ini dihitung genap 30 hari. Pada Selasa, 17 Februari 2026, konjungsi atau ijtima terjadi pada pukul 20.03 Wita (19.01 WIB).

Peristiwa itu juga bertepatan dengan fenomena Gerhana Matahari Cincin yang teramati di wilayah Antartika dan sebagian Amerika Selatan, meskipun tidak terlihat di Indonesia karena berlangsung pada malam hari waktu setempat.

Bagi An Nadzir, fenomena gerhana menjadi salah satu indikator penting dalam membaca siklus bulan. 

Mereka merujuk pada ajaran K.H. Syamsuri Abdul Madjid yang menyebut bahwa gerhana matahari dan bulan dapat dijadikan patokan dalam perhitungan, selain dengan mengamati fase-fase pergerakan bulan secara berkelanjutan.

Atas dasar rangkaian pemantauan dan perhitungan tersebut, An Nadzir menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dengan demikian, jamaah mereka akan mulai melaksanakan puasa pada hari itu.

Sementara untuk pelaksanaan salat tarawih berjamaah, jamaah dipersilakan memulai pada Selasa malam, 17 Februari 2026 dan dilaksanakan berjamaah selama tiga malam pertama.

Setelah itu, ibadah tarawih dianjurkan dilakukan secara infiradi atau sendiri-sendiri di wilayah masing-masing.

Penetapan ini kembali menegaskan posisi An Nadzir sebagai salah satu komunitas muslim di Indonesia yang memiliki metode tersendiri dalam menentukan awal Ramadan, Syawal, maupun Zulhijah. 

Di tengah potensi perbedaan, mereka berharap keputusan tersebut dipahami sebagai bagian dari dinamika ijtihad dalam khazanah keilmuan Islam.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More