- Blokade total jalur Trans Sulawesi di Luwu Raya menyebabkan terhentinya arus logistik dan kelangkaan BBM.
- Demonstrasi besar menuntut pembentukan Provinsi Luwu Raya, isu lama yang kini diintensifkan karena rasa ketidakadilan pembangunan.
- Pemekaran dianggap solusi mengatasi jarak 500 km ke pusat provinsi, meskipun pakar mengingatkan pemekaran bukan jaminan kesejahteraan.
SuaraSulsel.id - Pada Jumat, 23 Januari 2026, jalur Trans Sulawesi yang melintasi wilayah Luwu Raya terputus total.
Sejumlah titik jalan nasional diblokade massa, sebagian dicor, sebagian lain ditutup dengan batang pohon dan ban terbakar.
Arus logistik terhenti. Ratusan kendaraan mengular dan distribusi bahan bakar tersendat.
Aksi itu bukan yang pertama. Namun skalanya kali ini berbeda.
Demonstrasi besar berlangsung serentak di Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Hingga Senin, 26 Januari 2026, aksi akan berlanjut di empat daerah tersebut.
Dampaknya pun langsung terasa. SPBU kehabisan stok, harga bensin eceran melonjak hingga Rp50 ribu per liter, dan pasokan bahan pokok terganggu.
Di balik aksi tersebut, satu tuntutan kembali mengemuka dengan cara yang lebih keras dari sebelumnya.
Demonstran menuntut pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Baca Juga: Demo Pemekaran Luwu Raya Ricuh, Tujuh Satpol PP Terluka
Isu pemekaran Luwu Raya sejatinya bukan barang baru. Wacana ini telah hidup selama lebih dari enam dekade.
Pertama kali muncul pada awal 1960-an, ketika Presiden Soekarno menjanjikan status daerah istimewa bagi Luwu, wilayah bekas kerajaan yang memiliki sejarah politik dan kultural panjang di Sulawesi Selatan.
Sejak itu tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya -- mencakup Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur -- terus muncul tenggelam.
Setiap tahun, pada 23 Januari yang diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL), deklarasi serupa selalu disuarakan.
Yang berubah pada 2026 adalah intensitas dan bentuk perlawanannya yang jauh lebih besar.
Sejak 5 Januari 2026, gelombang demonstrasi mulai berlangsung secara konsisten.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional
-
10 Pelaku UMKM Difabel di Palu Terima Bantuan Modal Usaha
-
Berapa Harga Jual Maksimal Beras SPHP ? Bulog Awasi Pengoplosan di Kendari
-
Harga Cabai Merah Besar di Jayapura Tembus Rp120 Ribu per Kilogram
-
Gubernur Sulsel Resmikan Jalan Paleteang - Malimpung - Kabere, Akses 800 Ribu Warga Makin Lancar