- Wamenkes RI menyatakan Sulawesi Selatan prioritas penanganan TBC; Makassar terdapat 9.885 kasus diobati tahun lalu.
- Strategi baru fokus pada pemeriksaan aktif kontak erat di lingkungan rumah pasien untuk memutus rantai penularan.
- Pemerintah pusat menargetkan dukungan 20 alat rontgen di Makassar dan mengapresiasi program inovatif "Hantu Mesra".
Dari hasil peninjauan, Benjamin mengapresiasi inovasi lokal yang telah dijalankan di Makassar, salah satunya program bertajuk "Hantu Mesra".
"Hantu Mesra ini menarik. Intinya adalah petugas kesehatan mendatangi langsung rumah warga untuk meningkatkan active case finding. Ini sejalan dengan strategi nasional TOSS TB, Temukan, Obati, Sampai Sembuh," katanya.
Program tersebut dinilai efektif karena menggeser paradigma layanan kesehatan dari menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, menjadi aktif menjemput dan memastikan pengobatan berjalan sampai tuntas.
Pendekatan ini dinilai cocok dengan karakter wilayah perkotaan padat penduduk seperti Makassar.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementerian Kesehatan juga akan menyerahkan alat rontgen portabel kepada Pemerintah Provinsi Sulsel.
Alat ini hanya berbobot sekitar tiga kilogram dan dapat dibawa langsung ke kelurahan bahkan ke rumah-rumah warga, sehingga memudahkan proses diagnosis di lapangan.
"Tugas Presiden jelas, pemberantasan TBC harus dilakukan secara nasional. Besok kami akan bertemu Gubernur Sulsel untuk menyerahkan alat rontgen portabel ini," ujar Benjamin.
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menegaskan komitmen pemerintah kota dalam mendukung penuh program nasional pengendalian TBC.
Ia menyebut Makassar siap menjadi daerah percontohan dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia timur.
Baca Juga: Wali Kota Makassar Murka Lihat Pegawai Duduk Santai Merokok di Jam Kerja
"Target kami jelas butuh kerja sama semua pihak. Dukungan dari Pak Wamen sangat luar biasa. Puskesmas, seperti Balaparang ini, terus berinovasi. Target kami nol TBC pada 2029 setelah tiga tahun masa intervensi," kata Munafri.
Ia menambahkan, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk mau diperiksa dan patuh menjalani pengobatan.
Munafri bilang TBC bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial yang membutuhkan solidaritas bersama.
Kontributor : Lorensia Clara Tambing
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Tika Bravani dan Teuku Rifnu Wikana Bintangi Film Akal Imitasi, Angkat Realita Kecerdasan Buatan
-
Nongkrong di Warkop, Napi Korupsi Asal Sultra Langsung "Dibuang" ke Nusakambangan
-
KALLA Respons Rencana Aksi di Makassar: Dukungan Jangan Lewat Unjuk Rasa
-
Peringatan Keras Rektor Unhas Bagi 1.128 Pengawas UTBK: Sanksi Tanpa Toleransi
-
Kapan Pelantikan Rektor Unhas Periode 2026-2030? Begini Persiapan Panitia