Muhammad Yunus
Selasa, 11 November 2025 | 21:04 WIB
Barang bukti ditampilkan saat rilis Penanganan Kasus Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Eric Harris & Dylan Klebold sebagai pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat
  • Neo-Nazi adalah gerakan ekstrem kanan yang menghidupkan kembali ideologi Nazi Jerman
  • Terduga pelaku mengikuti sebuah komunitas media sosial yang mengagumi kekerasan

SuaraSulsel.id - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menyebutkan terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta atau anak berkonflik dengan hukum (ABH), terinspirasi sedikitnya kepada enam tokoh "kekerasan".

Sehingga melakukan aksinya pada Jumat (7/11) di lingkungan masjid sekolah itu.

"Ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur. Kita sebutkan ada kurang lebih enam tokoh yang tercatat," kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (11/11).

Eka menyebutkan enam tokoh atau aksi tersebut yaitu Eric Harris & Dylan Klebold sebagai pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat pada 1999. Keduanya beraliran "Neo-Nazi".

Neo-Nazi adalah gerakan ekstrem kanan yang menghidupkan kembali ideologi Nazi Jerman, menekankan supremasi ras Arya dan kebencian terhadap kelompok minoritas.

Kemudian Dylan Ruff Charleston yang melakukan penembakan di Gereja Charleston di South Carolina terjadi pada 2015. Tokoh ini beraliran "White Supremacy".

White supremacy meyakini bahwa ras kulit putih lebih unggul dari ras lain.

Selanjutnya ada Alexandre Bissonete yang melakukan serangan di Gereja Quebec di Kanada pada 2017 dan juga beraliran White Supremacy.

"Selanjutnya ada Vladislav Roslyakov yang melakukan serangan di Politeknik Kerch di Crime, Rusia pada 2018 beraliran Neo-Nazi, kemudian Brenton Tarrant yang melakukan penembakan di Mesjid Christchurch, Selandia Baru pada 2019 dan beraliran Fasis, Rasis, Ethno Nasionalis," ucap Eka.

Baca Juga: Anggota Bawaslu Wajo Dipecat: Terbukti Lakukan Pelecehan Seksual Berulang Kali pada Staf PPPK

Ethno-nasionalis adalah gerakan yang menekankan identitas dan loyalitas terhadap satu etnis tertentu sebagai dasar pembentukan negara atau kekuasaan politik.
Penganutnya sering menuntut kemerdekaan, otonomi, atau dominasi etnisnya atas kelompok lain.

Sedangkan Fasis adalah ideologi politik yang menekankan nasionalisme ekstrem, ketaatan mutlak pada pemimpin, serta penggunaan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.
Paham ini menolak demokrasi dan kebebasan individu dan mengutamakan negara atau ras tertentu di atas segalanya.

Rasis merujuk pada sikap, keyakinan, atau sistem yang menganggap satu ras lebih unggul dari ras lain.

Rasisme bisa muncul dalam bentuk diskriminasi, ujaran kebencian, atau kebijakan yang menindas kelompok tertentu berdasarkan warna kulit atau asal-usul etnis

Kemudian, terakhir Natalie Lynn Rupnow yang melakukan penembakan di Abundant Life Christian School di Wisconsin, Amerika Serikat pada 2024 dan beraliran Neo-Nazi.

Eka menjelaskan tokoh-tokoh tersebut yang menginspirasi ABH dan berdasarkan pendalaman, yang bersangkutan mengikuti sebuah komunitas media sosial yang mengagumi kekerasan.

Load More