Eviera Paramita Sandi
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 11:53 WIB
Penampakan Kantor DPRD Kota Makassar yang Dibakar Massa pada Jumat (28/8/2025) [Lorensia/Suara.com]

Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan di Jakarta menjadi simbol perlawanan baru terhadap kekerasan aparat dalam mengawal aksi demonstrasi.

Kematian Affan akibat dilindas mobil rantis Brimob memicu kemarahan publik dan menggeser fokus tuntutan dari isu tunjangan DPR menjadi seruan untuk reformasi aparat kepolisian.

Awalnya, gelombang demonstrasi dipicu oleh isu gaji dan tunjangan anggota DPR RI yang dianggap terlalu berlebihan oleh publik.

Seruan untuk membubarkan DPR pun menyebar luas di media sosial, dan pada 25 Agustus 2025, ribuan massa berkumpul di depan Gedung DPR/MPR RI.

Aksi ini berujung ricuh. Polisi membubarkan massa dengan water canon dan gas air mata.

Pada Kamis, 28 Agustus 2025, giliran massa buruh yang turun ke jalan dengan tuntutan penghapusan sistem outsourcing dan peningkatan upah.

Aksi mereka berlangsung damai. Namun, pada sore harinya, massa dengan atribut mahasiswa datang, dan bentrokan kembali pecah.

Polisi menggunakan water canon dan gas air mata, membuat massa terpecah dan kericuhan meluas hingga ke Pejompongan.

Di sinilah insiden tragis menimpa Affan Kurniawan, yang tidak sengaja berada di tengah kerusuhan saat mengantar pesanan.

Baca Juga: 'Polisi Pembunuh!' Teriak Massa Saat Bakar Kantor DPRD Makassar

Kini, kematian Affan menjadi pemicu utama kemarahan publik.

Kontributor : Lorensia Clara Tambing

Load More