Dengan keterampilan menghafal dan memahami Al-Qur’an, mereka diharapkan memiliki bekal spiritual yang lebih kuat untuk menjalani hidup yang lebih baik di luar rutan.
Selain program One Day One Ayat, warga binaan juga telah lebih dulu mengikuti program Dirosa.
Selama bulan Ramadan, berbagai kegiatan keagamaan digelar di rutan, seperti pesantren kilat, kajian Ramadan, tadarus, dan shalat tarawih berjamaah.
Bahkan, beberapa warga binaan dipercaya menjadi imam shalat tarawih saat tidak ada ustaz yang datang.
"Untuk program tahfidz ini, kegiatan rutin dilakukan setiap hari menjelang berbuka puasa. Ini menjadi bagian dari pembiasaan agar hafalan mereka semakin kuat," ungkap Kepala Sub Seksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan Rutan Makassar, Abd Jalil.
Metode Unik: Menghafal Lewat Suara dan Penglihatan
Salah satu mahasiswa Fakultas Psikologi UNM yang terlibat, Nur Lathifah Dzakiyyah Aqilah, menjelaskan bahwa dalam program ini diterapkan dua metode utama dalam menghafal, yaitu melalui suara dan penglihatan.
"Warga binaan diperdengarkan ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, yang diputar sebanyak tiga kali. Kemudian, ayat tersebut ditulis di atas kertas dan dibaca ulang sebanyak 10 hingga 20 kali. Dari sini, kami bisa mengidentifikasi apakah mereka lebih mudah menghafal melalui pendengaran atau penglihatan," paparnya.
Metode ini memungkinkan setiap warga binaan menemukan cara hafalan yang paling sesuai dengan kemampuan mereka, sehingga proses menghafal menjadi lebih efektif dan berkesan.
Baca Juga: Umat Kristen di Makassar Bagi Takjil: Bukti Toleransi yang Menyentuh Hati di Bulan Ramadan
Harapan Baru dari Balik Jeruji
Program ini bukan sekadar mengajarkan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memberi harapan dan arah baru bagi para warga binaan.
Dengan pembiasaan membaca dan menghafal ayat-ayat suci, diharapkan mereka bisa mengalami perubahan positif yang berkelanjutan.
"Kami ingin warga binaan memiliki sesuatu yang berharga untuk dibawa setelah mereka bebas. Dengan hafalan Al-Qur’an ini, semoga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dan penuh makna di luar sana," tutup Jayadi.
Di balik jeruji, cahaya harapan tetap menyala. Hafalan demi hafalan yang mereka lantunkan bukan hanya sekadar kata, tetapi juga doa dan ikhtiar untuk masa depan yang lebih baik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
Terkini
-
Skakmat Peramal 'Indonesia Kolaps', Prabowo: Saya Lihat Langsung Masa Depan Indonesia Cerah
-
Kronologi 'COD' Geng Motor Warmen 27 Vs Tabe 22 di Makassar, 1 Tewas
-
Tragedi KM Virgo Transport 8: Nakhoda Hingga General Manager Diciduk Polisi
-
Bisnis Skincare Abal-Abal di Gowa Raup Rp100 Juta Per Pekan
-
Dosen Menangis Berujung Pengeroyokan Brutal di Fakultas Teknik Untad