SuaraSulsel.id - Gaya glamor pengusaha skincare di kota Makassar usai melaksanakan ibadah haji mencuri perhatian publik. Pasalnya, wanita bernama Nurul Damayana itu tiba di Bandara Sultan Hasanuddin mengenakan pakaian nyentrik berwarna pink lengkap dengan perhiasan emasnya.
"Jujur ga gini gaya saya ya, tapi dipaksa. Katanya ini momen, adat," ujar Nurul dalam video yang diupload di akun instagramnya, Minggu, 23 Juni 2024.
Nurul dan suaminya masuk dalam kelompok terbang atau kloter pertama Embarkasi Makassar yang tiba di tanah air. Sama seperti perempuan Bugis pada umumnya yang sudah menyandang gelar haji, selalu tampil nyentrik dibalut dengan perhiasan emas.
Mereka kemudian berjalan ke pintu kedatangan dan disambut langsung oleh ratusan kerabat dan karyawannya yang sudah menunggu lama.
"Katanya kalau pulang haji itu harus menyala. Wajib (glamor) seperti ini. Jadi saya juga doakan kalian semua kalau pulang haji Insya Allah bisa pakai perhiasan seperti ini," ucapnya.
Penampilan cetar seperti ini bagi orang Bugis Makassar bukanlah hal yang baru. Bahkan rupanya sudah menjadi tradisi tiap musim haji.
Jemaah perempuan akan mengenakan pakaian yang berwarna terang keemasan dengan riasan makeup tebal. Di tangan kiri-kanan, dipenuhi gelang, cincin emas dan juga kalung.
Adapun bagi laki-laki, mereka akan mengenakan gamis, surban, dan kacamata hitam.
Tak ada yang tahu pasti sejak kapan jemaah haji asal Sulawesi Selatan mengenakan pakaian seperti itu. Namun, menurut Budayawan Universitas Hasanuddin Makassar, Ilham Daeng Makkelo tradisi tersebut kemungkinan berawal di abad 20-an.
Baca Juga: Anggota DPRD Sulawesi Selatan Apresiasi Layanan Haji, Sebut Makanan Berlimpah
Menurutnya, berhaji bagi orang Sulawesi Selatan adalah suatu kehormatan. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan panggilan Haji di masyarakat.
Walaupun harus menunggu lama, mereka tak masalah. Untuk Sulawesi Selatan misalnya, masa tunggu haji cukup lama. Bahkan bisa mencapai 97 tahun.
"Bagaimanapun kondisi ekonominya, mereka akan berusaha untuk berhaji seperti menjual warisan. Itu banyak dilakukan sekarang," ungkapnya.
Kata Ilham, bagi orang Sulawesi Selatan, masalah haji bukan hanya soal ibadah. Ada yang lebih dari itu, yakni menaikkan strata sosial di masyarakat.
Dulu, strata sosial masyarakat yang paling tinggi hanya disandang oleh keturunan bangsawan. Namun, dengan gelar haji, statusnya dengan masyarakat biasa bisa disamakan.
"Karena berhaji bagi orang Sulsel, bukan hanya soal ibadah, tapi lebih memperlihatkan status sosial yang berbeda," ucap ketua Jurusan Ilmu Sejarah Unhas itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Sapi Kurban Presiden Prabowo 923 Kilogram Disembelih di Makassar
-
Pemprov Sulbar Berikan Modal Usaha Rp5 Juta Untuk 200 Keluarga
-
Serang Warga Pakai Anak Panah, 10 Anggota Geng Motor di Maros Diringkus Polisi
-
Sosok Rifaldy Fajar, Putra Bulukumba Disebut dalam Skandal Riset AI di Kopenhagen
-
Makassar Banjir Hewan Kurban: 7.261 Sapi Disembelih