SuaraSulsel.id - Sejumlah fakta baru terungkap dari kasus pembunuhan Jumiati, seorang ibu rumah tangga di kota Makassar, Sulawesi Selatan yang dibunuh oleh suaminya sendiri, Hengki. Polisi saat ini sudah memeriksa delapan orang sebagai saksi.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Mokh Ngajib mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah fakta baru dari kasus tersebut. Setelah memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri jejak digital, peristiwa ini diketahui terjadi pada tahun 2017, bukan tahun 2018.
"Saat ini ada 8 orang saksi dan satu pelaku yang diperiksa. Kita telusuri jejak digitalnya dan diperoleh hasil bahwa kejadiannya itu terjadi Agustus 2017. Sudah lebih tujuh tahun kejadiannya," ujar Ngajib kepada media, Selasa, 17 April 2024.
Ia menjelaskan kasus ini baru terungkap pada 13 April 2024. Saat itu anak korban berinisial DA dan KS datang ke Polrestabes dan mengaku telah dianiaya oleh ayahnya.
"Anak tersebut langsung melaporkan ayahnya karena (kejadiannya) sudah Agustus 2017. Kita kemudian lakukan tindak lanjut dan pelakunya ditangkap. Pelaku ini sudah akui aniaya anak dan istrinya," sebutnya.
Saat olah tempat kejadian perkara (TKP) dari tim forensik Polda Sulsel, kata Ngajib, benar ditemukan ada tengkorak dan tulang manusia di belakang rumah yang terletak di jalan Kandea. Tulang belulang itu terbungkus pakaian dan plastik.
Kata Ngajib, motif Hengki membunuh istrinya karena cemburu. Pelaku menduga korban punya hubungan dengan pria lain.
"Karena cemburu dia aniaya istrinya tiga hari berturut-turut. Dimana pada hari ketiga itu korban sudah meninggal dan dikubur di belakang rumah dengan ditimbun pakai pasir," sebutnya.
Usai membunuh istrinya, lanjut Ngajib, pelaku dan anaknya pindah ke jalan Daeng Tata. Rumah itu sempat kosong selama enam bulan sebelum disewakan 5 tahun kemudian.
Baca Juga: Pendeta Gilbert Lumoindong Dilaporkan ke Polrestabes Makassar
"Dari hasil pemeriksaan saksi korban (anak) selama ini ikut dengan bapaknya. Jadi selama ikut selalu dianiaya dan diintimidasi untuk tidak mengungkap terkait kasus pembunuhan ini," ungkapnya.
Selama ini, anak korban dan pelaku menutup rapat rahasia tersebut. Mereka beralasan jika JU melarikan diri dengan pria lain.
Kasus ini baru berani diungkap korban setelah dianiaya oleh pelaku. Kata Ngajib, korban sempat menemui saudara ibunya dan menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 2017 itu.
"Jadi itu hari anak ini ketemu dengan saudara ibunya dan diceritakan. Disitulah baru terungkap bahwa korban inisial JU itu dibawa lari oleh pria ternyata tidak benar," sebutnya.
Atas perbuatannya, pelaku disangkakan pasal 340 subsider Pasal 338 jo 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup penjara.
"Kita kenakan pasal berlapis 340 dan 338," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bebas dari Paving Block! 6 Km Jalan Tamalanrea Raya Makassar Dihotmix
-
Siang Jual Bendera, Malam Jualan Sari Laut: Cerita Pedagang Musiman Menjemput Rezeki Kemerdekaan
-
Hari Pramuka ke-65, Gubernur Sulsel dan Mentan RI Lepas Ribuan Peserta Jalan Sehat di Bone
-
Danantara Housing Expo 2026 Hadirkan Kolaborasi Himbara, BRI Dorong Kepemilikan Rumah Masyarakat
-
Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan