Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Minggu, 31 Maret 2024 | 12:44 WIB
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar masuk dalam kampus menggunakan sepeda motor [SuaraSulsel.id/Muhammad Aidil]

"Jadi jika bekerja delapan jam sehari bisa dapat Rp1,7 juta lebih," bebernya.

Secara pribadi ia mengaku program ini sangat cocok untuk kalangan mahasiswa. Apalagi untuk mendapatkan pekerjaan di Indonesia cukup sulit rasanya. Sehingga menurutnya magang di luar negeri bisa jadi solusi.

Namun, ia sadar tidak semua peserta punya pengalaman sama. Apalagi ada yang mengeluhkan soal gaji.

"Mungkin yang bikin program ini jadi buruk karena ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Banyak yang memberikan pernyataan kalau mereka punya buruk tapi saya pribadi tidak mengalami itu selama di Jerman," bebernya.

Baca Juga: Daftar Kampus di Kota Makassar, Disebut Terlibat Kasus Perdagangan Orang

Fikram mengaku jika ini bukan perdagangan orang lewat kampus. Tetapi cara mahasiswa mencari pengalaman dan bisa punya relasi bekerja di luar negeri.

"Programnya memang cuma tiga bulan dan itu bisa setiap tahun ada, tapi karena berita simpang siur, sekarang programnya dihentikan," sebutnya.

Hal yang sama dialami Indah, mahasiswi Universitas Fajar. Ia membantah jika program kerja paruh waktu (part-time) ferienjob terindikasi TPPO.

"Kami itu murni magang, tidak ada kasus TPPO yang terjadi selama saya berada di Jerman. Saya rasa tidak ada ya, karena kami di sana sebelum berangkat sudah harus memiliki tiket pulang-pergi," ucapnya saat dikonfirmasi.

Ia mengaku heran sebab peserta Ferienjob dari seluruh Indonesia sudah kembali sejak bulan Desember. Sedangkan berita mengenai dugaan TPPO baru menjadi viral bulan Maret ini.

Baca Juga: Ramai Soal Korban Ferienjob di Jerman, Dosen Untad : Mereka Happy Bisa Keliling Eropa

Ia menegaskan jika program Ferienjob yang diikuti oleh mahasiswi jurusan ilmu komunikasi itu telah berjalan sesuai prosedur yang berlaku dan tidak terlibat dalam praktik TPPO. Murni magang saja.

Load More