"Sisa satu petugas yang kerja di sana. Bidan sudah tidak ada yang betah. Mungkin karena tidak ada listrik dan jaringan," tutur Risnawati.
Dampak ketiadaan listrik juga sempat mengguncang Andi Azman. Dia mengalami geger budaya saat merantau melanjutkan pendidikan.
Azman adalah warga Bontorusu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Sewaktu sekolah, ia menggunakan lampu minyak saat belajar pada malam hari.
"Sekarang sudah ada listrik, tapi hanya menyala pada jam 6 sore. Jam 12 malam mati," ujar Azman.
Pria berumur 23 tahun yang kini berkuliah di Makassar ini mengaku awal kuliah, ia tak menguasai teknologi. Pengetahuannya minim karena sumber informasi seperti televisi tak bisa menyala di rumahnya.
"Apalagi komputer, tidak ada. Padahal jarak dari rumah saya ke pulau utama tidak jauh, hanya 300 meter," tuturnya.
Sebelum-sebelumnya, calon kepala daerah atau wakil rakyat yang hendak mencalonkan diri selalu menjanjikan listrik dan perbaikan infrastruktur. Sayang, hanya sekadar janji.
Risanawati dan Azman berharap, di momen hari kemerdekaan ini, kampung kelahirannya bisa mendapat perhatian pemerintah. Apalagi, ada wacana listrik murah untuk warga kepulauan oleh Pemprov Sulsel.
Janjikan Listrik Murah
Perseroda Sulsel dan PT Falcon Soenich Energi sudah bekerjasama untuk menyediakan listrik murah untuk
warga di Kepulauan Selayar. Pengerjaannya akan dimulai bulan Oktober.
Baca Juga: Indonesia Perlu Benahi Pengadaan PLTS Skala Besar Agar Peroleh Harga Listrik Kompetitif
Perseroda dan PT Falcon akan menghadirikan listrik dengan skema Solar Cell. Pembangkit listriknya akan dipasang di atap rumah warga.
Direktur Perseroda Sulsel Yasir Mahmud mengatakan hanya 57 persen masyarakat di kepulauan Selayar yang bisa menikmati listrik dari PLN. 42 persen warga belum pernah merasakan listrik sama sekali selama Indonesia merdeka.
"Ini pertama kalinya mereka akan menikmati listrik selama Indonesia merdeka, sejak 76 tahun yang lalu," kata Yasir, baru-baru ini.
Ia mengatakan pihaknya mendata ada 14.600 kepala keluarga yang rumahnya belum dialiri listrik selama 76 tahun. Listrik yang tersedia juga akan lebih murah dari PLN.
"Kita lebih murah 15 sampai 20 persen. Untuk harga dan tarif yang akan ditawarkan lebih murah Rp 500-600/kwh," jelasnya.
Kerjasama ini juga diklaim tidak akan memberatkan masyarakat. Untuk biaya pemasangannya gratis. Berbeda dengan PLN yang harus dibayar sebelum dipasang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Shin Tae-yong Kasih Kode Rotasi Skuad Persija, Shayne Pattynama Bisa Unjuk Gigi di League Cup
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
2 Kasus Kekerasan Seksual Difabel di Sulsel, Polisi Didesak Bertindak
-
Disabilitas di Bawah Umur Hamil 7 Bulan di Maros, Pelaku 7 Kakek-kakek Belum Ditangkap
-
Polisi Hutan Tewas Tertimpa Pohon Saat Padamkan Karhutla Toraja Utara
-
Mobil Listrik Harga Rp100 Jutaan Ada di GIIAS Makassar
-
Gubernur Sulsel: Sekolah Rakyat Buka Jalan Menuju Generasi Emas 2045