Scroll untuk membaca artikel
Muhammad Yunus
Sabtu, 10 April 2021 | 15:12 WIB
Ilustrasi siswa putus sekolah/ [google]

Banyak yang tidak punya gawai untuk belajar daring. Masalah lain soal kuota internet, apalagi sebelum Kementerian Pendidikan membagikan kuota internet secara cuma-cuma.

"Kami fasilitasi, mereka tidak boleh berhenti (belajar). Kami datangi satu-satu, tanyakan masalahnya apa," jelas Mirdan.

Pihak sekolah kemudian memberikan dispensasi. Biar bagaimana pun, kata Mirdan, mereka harus tetap sekolah.

Siswa yang tidak punya HP dibelikan oleh pihak sekolah. Ditanggung internetnya tiap minggu sebanyak 2 giga byte. Namun, tetap diawasi.

Baca Juga: Telusuri Aliran Uang ke Nurdin Abdullah, KPK Periksa Anggota DPRD Makassar

Kuota yang dibagikan khusus untuk belajar online tidak bisa diakses untuk browsing aplikasi lain.

75 anak ini kini dalam pembinaan. Apalagi sekolah tempat mereka belajar sudah dinobatkan menjadi sekolah ramah anak. Setidaknya, kata Mirdan, mereka bisa lulus SMA dulu.

Mirdan mengatakan, kasus seperti ini kemungkinan tidak menimpa sekolahnya saja. Bisa jadi di sekolah lain di Makassar juga mengalami hal yang sama.

Makanya, pihak sekolah dan orang tua perlu peka. Mirdan berharap rencana sekolah tatap muka bisa menekan masalah sosial di tingkat remaja.

Apalagi bagi mereka yang masih berstatus siswa. Edukasi soal kesehatan mental juga dinilai sangat penting dilakukan pihak sekolah.

Baca Juga: Pelajar di Lampung Pesan Tembakau Gorila untuk Dipakai saat Idul Fitri

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga menunjukkan data yang sama. Tren prosistusi di kalangan pelajar selama pandemi meningkat.

Load More