SuaraSulsel.id - Penularan Covid-19 di Sulawesi Selatan disebut makin mengkhawatirkan. Tim Satgas minta pemerintah kembali melakukan karantina wilayah atau PSBB seperti awal kasus.
Data per Selasa (5/1/2021), jumlah pasien terkonfirmasi positif di Sulsel mencapai 33.931. Ada kenaikan kasus 639 dari sehari sebelumnya.
"Secara epidemiologi, isolasi wilayah untuk sulsel sebaiknya menjadi pertimbangan melihat kasus terus naik," kata Ketua Tim Konsultan Satgas Penanganan Covid-19 Sulawesi Selatan Prof Ridwan Amiruddin saat dikonfirmasi, Rabu (6/1/2021).
Ia mengatakan rate kematian di Sulsel masih pada angka 1,8 persen. Hal tersebut jadi pertimbangan Sulsel untuk sementara tak perlu melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti yang diberlakukan di Pulau Jawa dan Bali.
"Syarat PSBB Jawa-Bali itu ada beberapa misalnya. Angka kematian diatas nasional 3 persen, sementara Sulsel 1.8 persen. Sementara, angka kesembuhan kurang dari nasional 82 persen, untuk sulsel 87 persen," bebernya.
Namun, jika pada bulan Januari ini kasus terus naik, akademisi Unhas ini mengaku tentu PSBB bisa dipertimbangkan. Apalagi jika dalam sehari, kasus kematian mencapai angka 6 dalam sehari.
"Melihat hal tersebut, kita masih mencermati aturan yang akan dikeluarkan pemerintah pusat untuk rekomendasi PSBB. Jika kasus naik terus, tentu solusinya adalah PSBB lagi," tambahnya.
Data Satgas Covid, angka kesembuhan di Sulsel cukup bagus. Sejauh ini, angka pasien yang sembuh ada 29.472 orang. Namun, yang jadi masalah adalah angka kematian juga turut naik. Hingga kini, ada 615 orang yang dinyatakan meninggal karena Covid-19.
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah sendiri belum memikirkan opsi PSBB untuk mengatasi penyebaran Covid-19.
Baca Juga: Ini Warga Sulsel yang Terpilih, Pertama Akan Disuntik Vaksin Covid-19
Masalah utamanya adalah kesadaran masyarakat. Dengan banyaknya kasus yang ada, masyarakat harus bisa memahami pentingnya upaya untuk penegakan protokol kesehatan.
"PSBB bukan solusi. Tetapi masalahnya adalah kesadaran masyarakat. Mungkin yang belum yang kena masih dianggap enteng. Intinya juga di protokol kesehatan, perlu diperketat lagi," sebutnya.
Ia juga meminta agar pegawai di pemerintahan lebih memaksimalkan bekerja dari rumah (WFH). Apalagi saat ini klaster perkantoran lebih massif terjadi.
"Pertambahan kasus juga naik karena banyak pegawai yang positif. Kalau sudah bergejala atau ada yang positif disitu (kantor) tidak perlu tunggu instruksi, langsung WFH saja. Sudah ada edarannya kok," tandasnya.
Sebelumnya, pemerintah pusat akan kembali memberlakukan karantina wilayah atau PSBB di Jawa dan Bali.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sudah meminta pemerintah setempat untuk memberlakukan hal tersebut pada 11 Januari hingga 25 Januari mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Gubernur Sulsel Jamin Pendidikan Anak Polisi Hutan yang Tewas saat Padamkan Karhutla Toraja Utara
-
Ikan Nila Disebut Jadi Ancaman Nyata Bagi Populasi Sidat Legendaris di Danau Poso
-
Kapal Perempuan: Banyak APH Belum Terapkan UU TPKS dalam Kasus Kekerasan Seksual
-
2 Kasus Kekerasan Seksual Difabel di Sulsel, Polisi Didesak Bertindak
-
Disabilitas di Bawah Umur Hamil 7 Bulan di Maros, Pelaku 7 Kakek-kakek Belum Ditangkap