- Pemerintah Kota Baubau menggelar ritual adat Santiago dan ziarah makam pada 12 Oktober 2026 untuk mengawali peringatan HUT Baubau.
- Pemerintah Kota Baubau berencana memperbaiki tulisan nisan para sultan yang memudar melalui koordinasi dengan instansi teknis terkait.
- Pelibatan generasi muda sebagai penari tradisional menunjukkan adanya regenerasi yang positif dalam pelestarian warisan budaya Buton.
SuaraSulsel.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), menggelar prosesi adat Santiago dan ziarah makam para Sultan Buton di kompleks Benteng Keraton Buton sebagai upaya melestarikan tradisi serta mengawali rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-485 Kota Baubau.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Baubau La Ode Darussalam saat dihubungi di Kendari, mengatakan pelaksanaan ritual adat Santiago tahun ini digelar lebih awal dari jadwal biasanya guna memohon doa keselamatan dan restu leluhur sebelum seluruh rangkaian acara peringatan dimulai, sekaligus juga memperingati HUT ke-25 status Kota Otonom.
"Ritual Santiago ini kami laksanakan setiap menjelang HUT Kota Baubau. Tahun ini kita majukan lebih awal sebagai penanda bahwa sebelum seluruh rangkaian kegiatan dimulai, kita terlebih dahulu memohon doa dan berpamitan kepada para sultan melalui ziarah makam, agar seluruh proses acara berjalan aman dan lancar," kata Darussalam, Senin 12 Oktober 2026.
Ia menjelaskan ziarah difokuskan pada sejumlah makam sultan di kompleks Masjid Agung Keraton Buton, antara lain makam Sultan Murhum, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo), dan Sultan Dayanu Ikhsanuddin.
Baca Juga:Kenapa Putra Raja Gowa Tuntut Pencabutan Perda Lembaga Adat Daerah
Dalam peninjauan tersebut Pemkot Baubau menemukan kondisi tulisan nisan para sultan yang mulai memudar akibat tergerus usia.
Pihaknya berencana menindaklanjuti perbaikan kondisi tulisan nisan itu hal itu melalui instansi teknis terkait.
"Terkait tulisan pada nisan para sultan yang sudah mulai pudar, hal ini akan segera kami laporkan kepada Wali Kota agar Dinas Pariwisata dapat memprioritaskan pembenahan, khususnya pengadaan papan nama informasi makam para sultan," ujarnya.
Selain itu Darussalam mengapresiasi adanya regenerasi pelestarian adat dalam pelaksanaan ritual kali ini.
Keterlibatan remaja sebagai penari tradisi Galangi yang sebelumnya dominan dibawakan kelompok tua menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan warisan budaya Buton bagi generasi muda.
Baca Juga:Digeruduk Polisi, Operasional Tambang PT BBDM di Buton Disegel