- Tim peneliti BRIN menemukan indikasi penggunaan buah pinang pada gigi manusia purba di Sulawesi Selatan sejak 25.000 tahun lalu.
- Analisis kimia menunjukkan adanya residu senyawa arecoline yang membuktikan pemanfaatan tanaman psikoaktif jauh sebelum masa pertanian berkembang.
- Temuan di gua prasejarah tersebut memperluas pemahaman sejarah konsumsi tumbuhan stimulan yang lebih tua dari perkiraan sebelumnya.
Namun, dugaan tersebut kemudian berkembang setelah peneliti menemukan indikasi adanya benda berukuran sekitar 1–2 sentimeter yang kemungkinan dikulum atau dikunyah secara berulang di dalam mulut.
![Penelitian terhadap sisa manusia purba di Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone, menemukan indikasi penggunaan buah pinang sekitar 25.000 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/03/72811-manusia-purba.jpg)
Jejak Pinang Ditemukan dari Analisis Kimia
Untuk menguji dugaan tersebut, peneliti menggunakan analisis biomolekuler Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS).
Metode ini digunakan untuk mendeteksi residu senyawa kimia yang masih tersimpan pada gigi maupun kalkulus atau karang gigi.
Baca Juga:Gunakan Nama 'Volcano', Durian Unggulan Sulawesi Tengah Bersiap Miliki Identitas Hukum
Hasil analisis menunjukkan adanya arecoline, senyawa utama pada biji pinang yang diketahui memiliki efek psikoaktif dan bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat.
Temuan tersebut menjadi petunjuk penting bahwa manusia di Sulawesi telah memanfaatkan pinang ribuan tahun sebelum tradisi menyirih dikenal luas pada masa yang lebih muda.
Budianto Hakim, peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi, mengatakan temuan tersebut menunjukkan pemanfaatan tanaman stimulan oleh manusia telah berlangsung sangat lama.
Menurut dia, pinang menjadi salah satu bukti awal penggunaan zat stimulan oleh manusia dalam catatan arkeologi.
Eksperimen laboratorium yang dilakukan peneliti juga menunjukkan bahwa mengulum buah pinang tanpa tambahan kapur sirih dapat melepaskan senyawa arecoline dalam rongga mulut.
Baca Juga:Desain Baru Gedung DPRD Sulsel Lebih Mewah, Ada Ruang Pribadi dan Parkir 130 Kendaraan
Senyawa tersebut diketahui dapat memberikan sejumlah efek fisiologis, antara lain meningkatkan kewaspadaan dan denyut jantung serta menimbulkan sensasi pada rongga mulut.
Lebih Tua dari Bukti Penggunaan Zat Psikoaktif Lain
Temuan di Sulawesi memperluas pemahaman mengenai sejarah pemanfaatan tumbuhan psikoaktif oleh manusia.
Sebelumnya, sejumlah bukti tertua penggunaan zat pengubah kesadaran diketahui berasal dari periode yang jauh lebih muda.
Bukti penggunaan ganja di Asia, misalnya, berasal dari sekitar milenium ke-9 SM. Sementara penggunaan opium di Eropa diketahui sejak sekitar milenium ke-6 SM.
Jejak minuman beralkohol hasil fermentasi di kawasan Timur Tengah bahkan diperkirakan berusia sekitar 13.000 tahun.