Manusia Zaman Es di Sulawesi Konsumsi Buah Pinang Sejak Ribuan Tahun Silam, Lebih Tua dari Ganja

Gigi manusia purba yang ditemukan di gua prasejarah Sulawesi Selatan membuka petunjuk baru tentang bagaimana manusia memanfaatkan tumbuhan untuk bertahan hidup

Muhammad Yunus
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 10:19 WIB
Manusia Zaman Es di Sulawesi Konsumsi Buah Pinang Sejak Ribuan Tahun Silam, Lebih Tua dari Ganja
Penelitian terhadap sisa manusia purba di Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone, menemukan indikasi penggunaan buah pinang sekitar 25.000 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Tim peneliti BRIN menemukan indikasi penggunaan buah pinang pada gigi manusia purba di Sulawesi Selatan sejak 25.000 tahun lalu.
  • Analisis kimia menunjukkan adanya residu senyawa arecoline yang membuktikan pemanfaatan tanaman psikoaktif jauh sebelum masa pertanian berkembang.
  • Temuan di gua prasejarah tersebut memperluas pemahaman sejarah konsumsi tumbuhan stimulan yang lebih tua dari perkiraan sebelumnya.

SuaraSulsel.id - Gigi manusia purba yang ditemukan di gua prasejarah Sulawesi Selatan membuka petunjuk baru tentang bagaimana manusia memanfaatkan tumbuhan untuk bertahan hidup.

Penelitian terhadap sisa manusia purba di Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone, menemukan indikasi penggunaan buah pinang sekitar 25.000 tahun lalu.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan tanaman yang mengandung senyawa psikoaktif telah berlangsung jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Penelitian ini dilakukan oleh tim arkeolog dan peneliti dari sejumlah institusi, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.

Baca Juga:Gunakan Nama 'Volcano', Durian Unggulan Sulawesi Tengah Bersiap Miliki Identitas Hukum

Jejak penggunaan pinang diketahui melalui kondisi gigi manusia purba yang memiliki pola keausan tidak biasa.

Peneliti kemudian menemukan residu senyawa arecoline, alkaloid yang secara alami terdapat pada biji pinang (Areca catechu).

Penelitian terhadap sisa manusia purba di Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone, menemukan indikasi penggunaan buah pinang sekitar 25.000 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Penelitian terhadap sisa manusia purba di Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone, menemukan indikasi penggunaan buah pinang sekitar 25.000 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Berawal dari Gigi yang Aus Tidak Biasa

Penelusuran tersebut bermula dari pengamatan terhadap kondisi gigi dua individu manusia purba yang ditemukan di Sulawesi Selatan.

Fakhri, arkeolog dan peneliti BRIN, mengatakan analisis awal dilakukan melalui pengamatan makroskopis terhadap bentuk dan kondisi gigi, termasuk indikasi paleopatologi.

Baca Juga:Desain Baru Gedung DPRD Sulsel Lebih Mewah, Ada Ruang Pribadi dan Parkir 130 Kendaraan

Salah satu sampel berasal dari Leang Bulu Bettue, Maros. Individu tersebut diperkirakan hidup pada masa Pleistosen Akhir, sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun lalu.

Giginya menunjukkan pola keausan melingkar atau circumferential wear yang sangat kuat pada bagian geraham.

Pola serupa juga ditemukan pada individu dari Leang Cappa Lombo, Bone, yang diperkirakan hidup pada masa Holosen Tengah, sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu.

Individu tersebut merupakan laki-laki dewasa berusia sekitar 33–50 tahun dan dikenal sebagai spesimen CPL-R2.

Pada awalnya, pola keausan tersebut sempat diduga berkaitan dengan aktivitas menggunakan gigi sebagai alat bantu pekerjaan.

Basran Burhan, peneliti geoarkeologi dari Griffith University Australia, mengatakan bentuk keausan itu sebelumnya dikaitkan dengan kemungkinan penggunaan gigi untuk membantu aktivitas tertentu, seperti membuat tali.

Namun, dugaan tersebut kemudian berkembang setelah peneliti menemukan indikasi adanya benda berukuran sekitar 1–2 sentimeter yang kemungkinan dikulum atau dikunyah secara berulang di dalam mulut.

Penelitian terhadap sisa manusia purba di Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone, menemukan indikasi penggunaan buah pinang sekitar 25.000 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Penelitian terhadap sisa manusia purba di Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone, menemukan indikasi penggunaan buah pinang sekitar 25.000 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Jejak Pinang Ditemukan dari Analisis Kimia

Untuk menguji dugaan tersebut, peneliti menggunakan analisis biomolekuler Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS).

Metode ini digunakan untuk mendeteksi residu senyawa kimia yang masih tersimpan pada gigi maupun kalkulus atau karang gigi.

Hasil analisis menunjukkan adanya arecoline, senyawa utama pada biji pinang yang diketahui memiliki efek psikoaktif dan bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat.

Temuan tersebut menjadi petunjuk penting bahwa manusia di Sulawesi telah memanfaatkan pinang ribuan tahun sebelum tradisi menyirih dikenal luas pada masa yang lebih muda.

Budianto Hakim, peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi, mengatakan temuan tersebut menunjukkan pemanfaatan tanaman stimulan oleh manusia telah berlangsung sangat lama.

Menurut dia, pinang menjadi salah satu bukti awal penggunaan zat stimulan oleh manusia dalam catatan arkeologi.

Eksperimen laboratorium yang dilakukan peneliti juga menunjukkan bahwa mengulum buah pinang tanpa tambahan kapur sirih dapat melepaskan senyawa arecoline dalam rongga mulut.

Senyawa tersebut diketahui dapat memberikan sejumlah efek fisiologis, antara lain meningkatkan kewaspadaan dan denyut jantung serta menimbulkan sensasi pada rongga mulut.

Lebih Tua dari Bukti Penggunaan Zat Psikoaktif Lain

Temuan di Sulawesi memperluas pemahaman mengenai sejarah pemanfaatan tumbuhan psikoaktif oleh manusia.

Sebelumnya, sejumlah bukti tertua penggunaan zat pengubah kesadaran diketahui berasal dari periode yang jauh lebih muda.

Bukti penggunaan ganja di Asia, misalnya, berasal dari sekitar milenium ke-9 SM. Sementara penggunaan opium di Eropa diketahui sejak sekitar milenium ke-6 SM.

Jejak minuman beralkohol hasil fermentasi di kawasan Timur Tengah bahkan diperkirakan berusia sekitar 13.000 tahun.

Jika interpretasi terhadap temuan pinang di Sulawesi sekitar 25.000 tahun lalu terkonfirmasi, bukti tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman psikoaktif telah dilakukan manusia jauh sebelum perkembangan pertanian.

Temuan ini juga memberikan perspektif baru terhadap sejarah konsumsi pinang di kawasan Asia Tenggara.

Selama ini, tradisi mengunyah pinang kerap dikaitkan dengan penyebaran masyarakat penutur bahasa Austronesia ke kepulauan Asia Tenggara pada periode Neolitikum.

Namun, keberadaan jejak pinang pada situs prasejarah Sulawesi yang jauh lebih tua menunjukkan bahwa praktik tersebut kemungkinan telah memiliki sejarah lokal yang lebih panjang.

Fakhri mengatakan temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa tradisi pemanfaatan pinang di Sulawesi tidak semata-mata merupakan hasil penyebaran budaya pada masa yang lebih muda.

Gigi Juga Merekam Masalah Kesehatan

Selain memberikan informasi mengenai pola konsumsi, kondisi gigi manusia purba juga memperlihatkan persoalan kesehatan yang mereka alami.

Spesimen CPL-R2, misalnya, menunjukkan indikasi penyakit periodontal, abses serta kehilangan gigi semasa hidup atau antemortem tooth loss.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan gigi menjadi salah satu persoalan yang dihadapi manusia pada masa itu.

Keausan gigi yang sangat kuat juga menjadi petunjuk bahwa aktivitas mengunyah atau mengulum benda keras dilakukan secara berulang.

Meski demikian, hubungan langsung antara konsumsi pinang dan penggunaan pinang sebagai obat untuk mengatasi sakit gigi perlu ditempatkan secara hati-hati.

Bukti arkeologis menunjukkan konsumsi dan efek biologis pinang, tetapi tidak secara otomatis membuktikan tujuan penggunaannya pada setiap individu.

Sulawesi dan Jejak Kehidupan Manusia Zaman Es

Penemuan ini menambah daftar bukti penting mengenai kehidupan manusia prasejarah di Sulawesi.

Gigi tidak hanya memberikan informasi mengenai kondisi tubuh, tetapi juga dapat menyimpan jejak aktivitas, pola makan, dan paparan terhadap berbagai senyawa dari lingkungan.

Suryatman, peneliti teknologi litik dan industri alat batu prasejarah Universitas Hasanuddin, melihat adanya kemungkinan kesinambungan tradisi antara populasi yang menghuni Sulawesi pada masa berbeda.

Keberadaan jejak konsumsi pinang pada situs dari periode yang berbeda menjadi petunjuk penting untuk memahami hubungan antara populasi, budaya, dan pengetahuan mengenai tumbuhan yang berkembang di Sulawesi.

Temuan dari Leang Bulu Bettue dan Leang Cappa Lombo pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang pinang.

Ia membuka jendela baru untuk melihat bagaimana manusia yang hidup puluhan ribu tahun lalu mengenali lingkungan, memanfaatkan sumber daya tumbuhan, dan mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Dari gigi yang aus dan sisa senyawa kimia yang bertahan selama ribuan tahun, peneliti kini mendapatkan petunjuk tentang salah satu praktik manusia tertua yang pernah ditemukan di Sulawesi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini