Ritual Berujung Petaka di Bone: ASN Ngamuk Ngaku Arung Palakka Terpaksa Diikat di Pohon

Emosinya semakin tidak terkendali dan menyerang sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi

Muhammad Yunus
Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:11 WIB
Ritual Berujung Petaka di Bone: ASN Ngamuk Ngaku Arung Palakka Terpaksa Diikat di Pohon
Seorang ASN di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan terpaksa diikat dipohon karena kerasukan dan mengaku sebagai Arung Palakka [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Seorang ASN berinisial DN mengamuk dan menyerang warga di Bone pada Senin, 17 Agustus 2026.
  • DN melakukan tindakan tersebut setelah menjalani ritual di sungai dan mengaku sebagai Raja Bone Arung Palakka.
  • Kasus berakhir damai dan DN langsung diserahkan kepada pihak keluarganya tanpa proses hukum lanjutan.

SuaraSulsel.id - Perjalanan seorang aparatur sipil negara (ASN) berinisial DN ke sebuah sungai di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan untuk menjalankan ritual berujung di luar dugaan.

Alih-alih pulang dengan tenang, pria tersebut justru mengamuk hingga membuat warga Desa Tanete Harapan, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone kewalahan.

Saking sulitnya dikendalikan, DN akhirnya terpaksa diikat pada sebatang pohon oleh warga. Video saat DN diikat kemudian beredar di media sosial dan menjadi perhatian warganet.

Belakangan diketahui, peristiwa tersebut sebenarnya terjadi pada Senin, 17 Agustus 2026. Video kejadian itu baru ramai beredar beberapa hari kemudian.

Baca Juga:Hari Pramuka ke-65, Gubernur Sulsel dan Mentan RI Lepas Ribuan Peserta Jalan Sehat di Bone

Kapolsek Cina, Iptu Muh Rusdi membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan pria dalam video merupakan seorang ASN yang sebelumnya datang ke sungai bersama keluarganya untuk menjalankan ritual.

"Pria di video itu ASN dan melakukan ritual di sungai. Dia mengaku dirinya sebagai Arung Palakka," kata Rusdi, Kamis, 20 Agustus 2026.

Cerita bermula ketika DN bersama keluarganya mendatangi sebuah sungai di wilayah Kecamatan Cina. Dalam ritual tersebut, mereka membawa sejumlah benda pusaka, di antaranya keris dan badik.

Awalnya ritual berjalan sebagaimana mestinya. Namun suasana berubah ketika rombongan tersebut dalam perjalanan pulang.

Di dalam mobil, DN tiba-tiba mengamuk. Menurut polisi, ia bahkan diduga memukul anggota keluarganya sendiri.

Baca Juga:Balita Tewas Ditabrak Mobil Perwira Polisi di Bone

Keributan tak berhenti setelah DN turun dari kendaraan. Emosinya disebut semakin tidak terkendali dan ia kemudian menyerang sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi.

Warga yang berada di lokasi pun mencoba mengamankan DN. Namun, upaya tersebut tidak mudah.

Karena terus memberontak dan dikhawatirkan melukai orang lain, warga akhirnya mengambil langkah darurat. DN diikat pada sebatang kayu hingga situasi benar-benar terkendali.

"Dia pukuli orang termasuk keluarganya sendiri makanya diamankan (diikat)," ujar Rusdi.

Setelah DN berhasil diamankan, warga kemudian menunggu kedatangan polisi dan pihak keluarganya.

Rusdi mengatakan DN kemudian diserahkan kepada keluarganya untuk dibawa pulang. Polisi menyebut persoalan tersebut tidak berlanjut ke proses hukum karena warga yang sempat menjadi korban pemukulan tidak mempermasalahkannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini