Tradisi Teknologi Selama 40.000 Tahun di Sulawesi Selatan Terungkap

Inovasi teknologi masyarakat prasejarah di Sulawesi Selatan berkembang melalui proses panjang selama puluhan ribu tahun

Muhammad Yunus
Kamis, 16 Juli 2026 | 13:43 WIB
Tradisi Teknologi Selama 40.000 Tahun di Sulawesi Selatan Terungkap
Kondisi dan aktivitas penggalian di Situs Leang Panninge, Kabupaten Maros, tahun 2023 [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Tim peneliti lintas lembaga mengungkap evolusi teknologi alat batu di situs Leang Panninge, Sulawesi Selatan, selama 40.000 tahun terakhir.
  • Budaya Toalean terbukti berkembang secara bertahap dari tradisi lokal Pleistosen Akhir, bukan muncul secara tiba-tiba di wilayah tersebut.
  • Penelitian ini menegaskan bahwa inovasi budaya manusia prasejarah di Sulawesi didorong oleh adaptasi berkelanjutan serta kreativitas artistik yang tinggi.

SuaraSulsel.id - Sebuah penelitian kolaboratif di bawah Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Arkeologi Sulawesi berhasil mengungkap sejarah panjang perkembangan teknologi peralatan batu di Sulawesi Selatan selama 40.000 tahun terakhir.

Penelitian telah dipublikasikan di jurnal bergengsi arkeologi "Archaeological and Anthropological Science" dengan judul "Evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the 'Toalean' technocomplex".

Penelitian yang dilakukan di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa budaya Toalean tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari tradisi teknologi lokal yang telah berakar sejak masa Pleistosen Akhir.

Penelitian ini melibatkan para peneliti dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulawesi Selatan, Bumi Toala Indonesia, NALAR, dan IAAI SULAMPAPUA.

Baca Juga:Peneliti: Inovasi Manusia Purba Sulsel Sudah Berkembang 40 Ribu Tahun Lalu

Budaya Toalean dikenal sebagai salah satu tradisi prasejarah paling khas di Indonesia, terutama melalui artefak batu ikonik yang dikenal sebagai Maros Point.

Selama beberapa dekade, para arkeolog masih memperdebatkan asal-usul budaya ini dan bagaimana hubungannya dengan tradisi yang lebih tua di Sulawesi Selatan.

Melalui analisis teknologi artefak batu dari lapisan berumur sekitar 40.000 hingga 3.500 tahun lalu di Leang Panninge, para peneliti menemukan bahwa perkembangan teknologi berlangsung secara bertahap.

Pada masa awal, masyarakat memproduksi serpih-serpih batu sederhana yang praktis dan banyak digunakan secara langsung tanpa modifikasi lanjutan.

Meski demikian, mereka telah mengenal berbagai strategi pereduksian batu, termasuk teknik bipolar, mungkin terkait dengan kebutuhan dalam mengolah sumber oker sebagai bahan membuat lukisan.

Baca Juga:Leang Panninge Perkuat Posisi Sulsel Sebagai Laboratorium Sejarah Manusia Dunia

Dalam perjalanan waktu, teknologi tersebut terus berkembang dan menghasilkan berbagai inovasi khas Toalean. Sekitar 8.000 tahun lalu, muncul Maros Point sebagai salah satu penanda budaya Toalean.

Pada periode-periode berikutnya, strategi produksi alat batu menjadi semakin terorganisasi hingga mencapai puncaknya pada Toalean Akhir, ketika masyarakat mulai menghasilkan artefak yang lebih kecil, lebih seragam, dan memanfaatkan teknologi backing.

Alat batu yang dikenal dengan nama “backed microlith”, salah satu ciri khas toalean dengan inovasi teknologi “backing” yang muncul di masa akhir penghunian Toalean 4000 hingga 3500 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]
Alat batu yang dikenal dengan nama “backed microlith”, salah satu ciri khas toalean dengan inovasi teknologi “backing” yang muncul di masa akhir penghunian Toalean 4000 hingga 3500 tahun lalu [SuaraSulsel.id/Istimewa]

Kesinambungan dan Inovasi

Suryatman, penulis utama penelitian dari Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa hasil penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai asal-usul budaya Toalean.

"Yang menarik dari penelitian ini adalah adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang. Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong. Berbagai inovasi yang menjadi ciri khas Toalean berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan masyarakat Sulawesi Selatan selama puluhan ribu tahun."

Menurut Prof. Akin Duli, Guru Besar Arkeologi Universitas Hasanuddin, pentingnya Leang Panninge tidak hanya terletak pada artefak batu yang ditemukan di situs tersebut, tetapi juga pada berbagai bukti lain yang membantu merekonstruksi sejarah manusia di Sulawesi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini