Sapi Tak Laku, Ekonomi Lesu: Mengapa Idul Adha Tahun Ini Terasa Lebih Berat dari Pandemi?

Hewan-hewan yang biasanya habis terjual menjelang hari raya tahun ini masih menyisakan cerita tentang lesunya daya beli masyarakat

Muhammad Yunus
Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:45 WIB
Sapi Tak Laku, Ekonomi Lesu: Mengapa Idul Adha Tahun Ini Terasa Lebih Berat dari Pandemi?
Deretan sapi kurban masih terlihat di lapak pedagang di perbatasan Makassar-Gowa. Sejumlah pedagang mengeluhkan penjualan yang lesu pada musim Idul Adha tahun 2026 akibat tekanan ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]
Baca 10 detik
  • Penjualan hewan kurban di Makassar menurun 30 persen setelah Idul Adha 1447 Hijriah akibat rendahnya daya beli masyarakat.
  • Kenaikan biaya operasional dan pengiriman hewan menyebabkan harga jual meningkat sehingga konsumen memilih melakukan patungan saat berkurban.
  • Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang impresif belum dirasakan masyarakat menengah karena tertekan kenaikan biaya hidup yang cukup berat.

Kenaikan biaya itu membuat harga hewan kurban ikut terkerek.

Menurut Daeng Mile, harga sapi tahun ini naik antara Rp500 ribu hingga Rp2 juta per ekor, tergantung bobot, jenis, dan kualitas pemeliharaannya.

Meski demikian, kenaikan harga tidak sepenuhnya mampu menutup bertambahnya biaya usaha.

"Kalau sapi yang dipelihara peternak lokal biasanya lebih mahal karena perawatannya lebih maksimal," katanya.

Baca Juga:Sinyal Positif Ekonomi Indonesia: Arus Peti Kemas di Pelabuhan Melonjak 7 Persen

Namun harga yang lebih tinggi justru membuat sebagian konsumen semakin berhitung.

Fenomena itu dirasakan Ahmad Supri, seorang warga Makassar yang selama bertahun-tahun rutin berkurban seekor sapi bersama keluarganya di masjid dekat rumah.
Tahun ini, tradisi tersebut terpaksa berubah.

Ia memilih patungan dengan saudara-saudaranya untuk membeli hewan kurban.

"Dulu gaji dan tunjangan saya satu bulan bisa beli satu ekor sapi. Sekarang menurun drastis dampak efisiensi," ujarnya.

Ahmad mengaku tidak hanya mengandalkan penghasilan sebagai aparatur sipil negara. Ia juga pernah membuka usaha kafe bersama beberapa koleganya.
Namun usaha tersebut akhirnya tutup akibat lesunya bisnis.
Kondisi itu memaksanya mengencangkan ikat pinggang dan menunda berbagai pengeluaran yang dianggap tidak mendesak.

Baca Juga:Sapi Kurban Presiden Prabowo 923 Kilogram Disembelih di Makassar

"Keadaan sangat susah. Kebutuhan hidup tidak sebanding lagi dengan pendapatan. Saya yang (PNS) eselon III saja mengeluh," katanya.

Menurut Ahmad, tekanan ekonomi yang dirasakan saat ini bahkan terasa lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19.

Kala itu aktivitas masyarakat memang terbatas, tetapi daya beli masih terbantu oleh berbagai program dukungan pemerintah.

Saat ini, ia menilai masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup di banyak sektor secara bersamaan.

Keluhan yang dirasakan Daeng Mile dan Ahmad mencerminkan paradoks yang tengah terjadi di Sulawesi Selatan.

Di atas kertas, ekonomi daerah menunjukkan kinerja yang cukup impresif.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini