- Helen Brown dari AIC memaparkan hasil kajian di Universitas Hasanuddin mengenai rendahnya perspektif ilmiah dalam pemberitaan iklim.
- Pemberitaan perubahan iklim di Indonesia saat ini masih didominasi sumber pemerintah dan sektor ekonomi daripada data berbasis riset ilmiah.
- Program pelatihan bagi jurnalis terbukti efektif meningkatkan kualitas liputan, kepercayaan diri wartawan, serta kesadaran publik terhadap krisis perubahan iklim.
Selain itu, para jurnalis berdiskusi dengan peneliti AIC yang melakukan riset di Sulawesi dan bertukar pengalaman dengan wartawan Australia terkait pola peliputan isu iklim.
Konsulat Australia Isaac mengatakan pemahaman masyarakat mengenai perubahan iklim menjadi hal penting agar publik mampu mengambil langkah antisipasi yang tepat menghadapi krisis lingkungan.
“Perubahan iklim harus benar dimengerti masyarakat agar bisa siaga dan mengambil tindakan yang tepat,” katanya.
Ia menambahkan, laboratorium perubahan iklim yang dikembangkan di Kampus Unhas nantinya diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan jurnalis dalam membangun kesadaran bersama terhadap isu iklim.
Baca Juga:12 Daerah di Sulsel Dapat Pendampingan Pengendalian Perubahan Iklim
Sementara itu, Operation Manager and Science Communicator AIC, Amelia Person, mengungkapkan hasil pemantauan selama 18 bulan terhadap 152 artikel dari ribuan pemberitaan di Indonesia menunjukkan isu perubahan iklim masih didominasi sudut pandang ekonomi.
“Mitigasi banyak dibahas, tapi adaptasi yang kurang,” ujarnya.
Menurut Amelia, masyarakat saat ini membutuhkan informasi yang lebih kuat mengenai strategi adaptasi menghadapi krisis iklim, terutama bagi komunitas yang sudah terdampak langsung.
Dia menilai pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi jurnalis terbukti mampu meningkatkan kualitas pelaporan isu perubahan iklim, sekaligus memperkuat kepercayaan diri wartawan dalam menyampaikan informasi yang berdampak bagi masyarakat.
Baca Juga:Menteri Agama: Kerusakan Iklim Telan Korban 4 Juta Jiwa