- Saifuddin HM Abd Muin Saideng, jemaah tunanetra asal Sinjai, berangkat haji melalui Embarkasi Makassar pada Sabtu, 2 Mei 2026.
- Ia berhasil mewujudkan keinginan berhaji setelah menabung selama lebih dari 20 tahun dari penghasilan sebagai pedagang dan imam.
- Kementerian Haji Kabupaten Sinjai memastikan Saifuddin mendapatkan pendampingan khusus selama proses ibadah haji di Tanah Suci berlangsung.
Saifuddin mulai kehilangan penglihatan sejak duduk di bangku SMP. Awalnya, matanya terasa sakit seperti tertusuk. Kemudian bengkak. Perlahan, penglihatannya menghilang.
Ia sempat berobat ke dokter mata di Makassar pada 1985. Namun upaya itu tidak mengembalikan penglihatannya.
"Awalnya sakit sekali. Seperti tertusuk jarum," kenangnya.
Sejak saat itu, ia harus menjalani hidup tanpa bisa melihat. Namun kondisi tersebut tidak menghentikannya.
Baca Juga:Perjuangan 16 Tahun Ibu Penjual Jalangkote ke Tanah Suci
Ia tetap bekerja. Tetap menjadi imam. Dan tetap menyimpan satu keinginan besar untuk berhaji.
Di tengah keterbatasan itu, Saifuddin tetap berusaha mandiri.
Dalam perjalanan hajinya kali ini, ia memang didampingi keluarga. Namun ia mengaku masih kuat berjalan sendiri.
"Masih kuat jalan," katanya.
Pendampingan menjadi penting, mengingat kondisinya sebagai jemaah tunanetra.
Baca Juga:Sherly Tjoanda: Jemaah Haji Maluku Utara Dapat Uang Saku Rp1,5 Juta per Orang
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Sinjai, Kamriati Anis mengatakan Saifuddin mendapat perhatian khusus.
"Kami sudah sampaikan ke ketua kloter agar memberi perhatian lebih," ujarnya.
Menurut Kamriati, Saifuddin tidak menggunakan alat bantu seperti kursi roda. Pendampingan lebih banyak dilakukan oleh keluarga.
"Dia tidak pakai alat bantu khusus jadi didampingi orang," jelasnya.
Di tengah keramaian jemaah, Saifuddin tampak sederhana. Tidak banyak bicara. Namun perjalanan hidupnya menyimpan cerita panjang.
Dua puluh tahun menabung bukan waktu singkat. Apalagi dengan penghasilan terbatas dan kondisi fisik yang tidak sempurna.